
Surabaya, paradigmanasional.id – Pertemuan antara Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur dengan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya membuka babak baru hubungan kerja sama yang tidak lagi hanya berada di level diplomasi pemerintah.
Dialog yang berlangsung di sekretariat PW GP Ansor Jawa Timur tersebut mengarah pada peluang kolaborasi konkret di sektor strategis, mulai dari penguatan sumber daya manusia (SDM), pertanian modern, industri halal, hingga pengembangan ekonomi berbasis masyarakat.
Pertemuan ini sekaligus menunjukkan mulai bergesernya pola hubungan internasional yang tidak lagi hanya bertumpu pada kerja sama antar negara, tetapi juga melibatkan organisasi masyarakat dan jaringan komunitas sebagai penggerak di tingkat akar rumput.
Ketua PW GP Ansor Jawa Timur, H. Musaffa Safril, menilai organisasi kepemudaan memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial sekaligus menjadi penghubung antara investasi dan masyarakat.
Menurutnya, pembangunan ekonomi tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan stabilitas sosial serta kesiapan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan global.
“Hubungan internasional tidak cukup hanya melalui kerja sama pemerintah atau dunia usaha. Dialog antar masyarakat, kolaborasi generasi muda, dan hubungan antar komunitas menjadi fondasi penting dalam membangun kerja sama jangka panjang,” ujar Musaffa.
Ia menegaskan, jaringan kader GP Ansor yang tersebar hingga tingkat desa di seluruh Jawa Timur dapat menjadi modal sosial yang kuat untuk mendorong pembangunan yang inklusif.
Dengan basis kader yang luas, organisasi kepemudaan dinilai mampu menjadi jembatan antara investasi, program pembangunan, serta kebutuhan masyarakat di tingkat lokal.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah sektor potensial kerja sama mulai dibahas, termasuk pengembangan SDM, pendidikan, pertanian modern, industri halal, hingga penguatan ekonomi berbasis masyarakat.
Musaffa menilai di tengah dinamika global yang semakin kompleks, dunia membutuhkan lebih banyak ruang kolaborasi daripada sekadar kompetisi antar negara.

“Kerja sama harus dibangun di atas prinsip saling menghormati, saling memahami, dan komitmen bersama untuk menciptakan perdamaian serta keadilan global,” katanya.
Sementara itu, Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, Ye Su, menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Tiongkok tidak hanya berkembang di sektor perdagangan dan investasi, tetapi juga melalui hubungan sosial antar masyarakat.
Menurutnya, interaksi komunitas menjadi faktor penting dalam memperkuat hubungan kedua negara.
Ia mencontohkan berbagai kegiatan sosial yang dilakukan komunitas Tiongkok selama Ramadan, termasuk pembagian bantuan sembako bagi masyarakat yang membutuhkan.
“Persahabatan Indonesia dan Tiongkok dibangun atas dasar kedekatan masyarakat kedua negara,” ujar Ye Su.
Ia juga menyebut komunitas Tiongkok di Indonesia yang jumlahnya mencapai sekitar 20 juta orang telah lama menjadi bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Dalam diskusi tersebut, peluang kerja sama ekonomi juga menjadi perhatian utama. Kawasan industri di Pasuruan dan Sidoarjo, khususnya yang berkaitan dengan industri halal dan sektor pertanian modern, dinilai memiliki potensi besar untuk menarik investasi baru. “Jum’at : 13/03/2026.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya menghadirkan modal, tetapi juga mempercepat transfer teknologi serta meningkatkan daya saing industri nasional.
Namun demikian, keberhasilan pembangunan tidak hanya bergantung pada investasi dan teknologi.

Stabilitas sosial, dukungan masyarakat, serta kualitas sumber daya manusia yang adaptif menjadi faktor kunci agar pembangunan dapat berjalan berkelanjutan.
Di sinilah organisasi kepemudaan seperti GP Ansor dinilai memiliki peran penting sebagai penghubung antara pembangunan ekonomi dan stabilitas sosial di tingkat akar rumput.
Pertemuan ini pun menjadi sinyal awal terbukanya jalur kerja sama yang lebih luas antara komunitas masya
“(muspn).






