Malang, paradigmanasional.id — Rabu, 10 Desember 2025, di penghujung tahun ini Kampung Budaya Polowijen kedatangan tamu istimewa dari penjuru negeri yang paling jauh, yaitu dari Nabire, Papua Tengah. Sebanyak 15 guru TK Shekina Glory Terpadu sengaja berkunjung dalam rangka studi tiru penerapan Kurikulum Deep Learning berbasis budaya.
“Awal mula kami tertarik dan memutuskan ke Malang itu lihat di sosmed, kok ada kunjungan anak-anak PAUD, TK, SD terus diajak interaksi dan pembelajaran budaya. Menarik sekali,” ujar Julia, guru TK yang asli Solo namun sudah puluhan tahun tinggal di Nabire. “Jadi kami ingin tahu dan belajar mendalami,” ungkapnya.
Rombongan dari Nabire ini selain ke KBP juga melakukan studi banding ke beberapa sekolah TK lainnya di Surabaya dan Malang. Setiba di PAUD Terpadu Zam Zam Polowijen pada pagi hari, siangnya langsung menuju KBP dan disambut dengan tari khas Malang, yaitu Tari Beskalan dan Tari Topeng Malang.
Sylvia Yunita Rahmawati saat di KBP selaku narasumber menegaskan pentingnya pendidikan berbasis budaya lokal di PAUD untuk menemukenali jati diri anak usia dini, menguatkan nilai moral, dan kepekaan sosial. “Melalui bermain budaya, anak PAUD belajar nilai lokal secara alami dan menyenangkan, membentuk karakter, identitas, kreativitas, serta kecintaan pada budayanya.”
Selain berbagi pengalaman mengajar di PAUD, tamu istimewa ini diajak mengikuti serangkaian kegiatan budaya di Pawon KBP yang berlangsung meriah: tari topeng, menari beskalan bersama, tembang dolanan bocah, membuat wadah daun pisang seperti takir dan burung ketupat dari janur. Mereka juga diajak praktik bermain wayang, memakai kebaya dan jarik, cetik geni di tungku tradisional, serta menikmati makanan tradisional. Semua itu dikemas dalam sinau budaya bersama narasumber Ki Demang, Mbah Karjo, dan Bu Suli.
Kepala Sekolah TK Shekina Glory Terpadu, Ibu Priska Tinuk Sriwahyuni, yang mendampingi guru-guru studi banding ke Jawa selama 10 hari dan berkunjung ke berbagai tempat, mengaku heran dan terkagum-kagum dengan Kampung Budaya Polowijen.
“Rasanya baru kali ini dapat paket komplit belajar budaya di sini, ini menginspirasi untuk diterapkan di sana. Kita belajar anyaman itu dapat melatih motorik anak-anak, belajar wayang bagaimana mengajarkan storytelling, cara baru bermain, menari, dan menyanyi yang semuanya sangat menginspirasi. Belajar budaya ternyata sangat menyenangkan dan membahagiakan,” ungkap Ibu Priska, yang ternyata memiliki suami asal Dampit, Malang.
Sinau Budaya di KBP memang tidak ada habisnya. Selalu ada hal-hal baru yang disajikan dan semuanya berkaitan dengan 10 objek pemajuan kebudayaan serta bernuansa pelestarian budaya. Di dalam Pawon KBP api budaya menyala dari tungku tradisi yang terus dijaga semangatnya.
Sebagai penutup, kunjungan guru PAUD dari Nabire ini tidak hanya memperkuat jejaring pembelajaran budaya, tetapi juga menjadi bukti bahwa warisan budaya Nusantara mampu menyatukan, menginspirasi, dan membuka wawasan pendidikan dari ujung timur hingga barat Indonesia. Kampung Budaya Polowijen kembali meneguhkan diri sebagai ruang belajar budaya yang hidup dan relevan bagi generasi masa depan. (Narasumber Ki Demang – Red)





