“Di Sudut Desa Terpencil, Namun Tersimpan Asa yang Besar Untuk Sebuah Nilai Kehidupan yang Nyata”

oleh -153 Dilihat

Minahasa (paradigmanasional.id) – Ibadah minggu ini di Gereja Pantekosta. di Indoanesia (GPdI)Yesus Jawaban yang terletak di Desa Rambunan Kecamatan Sonder, Minahasa ini mungkin agak berbeda dengan gereja besar nan megah di kota besar yang sering kita Lihat pada umumnya, Gereja kecil ini berdiri tegak di atas bukit kecil di Sudut Desa Rambunan, Sonder Minahasa.

Menariknya, Gembala Sidang Gereja ini Pdt. Phillep Potangkuman yang Sudah berusia 77 Tahun, namun di usianya yang bisa di bilang senja inipun masih terlihat sangat Bersemangat Dalam Melayani, Sudah sangat rapi jauh sebelum jam ibadah di mulai, melihat saya dia langsung menyapa dan sambil menunggu Jemaat lain yang mulai berdatangan dan menunggu jam Ibadah di mulai, kami berbincang sedikit dan percakapan singkat dengan beliau dan ada banyak hal yang saya dapatkan, yaitu selalu bersyukur dan bersukacita dalam dalam keadaan dan kondisi apapun.

Keseharian Beliau yang sederhana dan sudah hidup menduda Semenjak di tinggal istri tercinta untuk pergi menghadap Sang Pencipta Satu setengah tahun yang lalu, tentunya sekarang keadaan sudah jauh berbeda, dulu waktu masih muda saya dan istri Pelayanan di Papua, Kalimantan dan ada beberapa daerah di Indonesia yang kami pergi untuk Pelayanan Pekabaran Injil, tentunya kepergian sang istri tercinta menjadi pukulan keras buat saya, namun saya melihat istri saya waktu itu yang sudah menderita sakit lumayan lama, walaupun hanya terbaring lemah tak berdaya di tempat tidur namun saya masih bisa bercengkrama dan bercerita banyak hal bersama istri ini cukup Membuat saya bahagia, Namun pada akhirnya dia pergi untuk selamanya, saya seperti kehilangan separuh hidup saya waktu itu, karna saya kemana-mana dia selalu ikut bersama saya, hidup Susah dan senang kami lewati bersama ujar beliau dengan mata yang berkaca, namun saya bahagia dia sudah berada di pangkuan Bapa ujarnya lagi.

Dulu kami berpikir dan memutuskan untuk pulang ke Manado dan Menetap di sana, dan akhirnya Tuhan memberikan lahan untuk di garap di desa Rambunan Sonder ini Ujar Beliau, Walaupun berasal dari Ratahan Minahasa Tenggara (Mitra) namun Tugas pelayanan yang di percayakan Tuhan bukanlah Di Mitra melainkan di sini,dan kami merintis lagi Pelayanan di Rambunan sini dan kami memulainya dari nol dan tentunya dengan Jemaat yang bisa di hitung jari kala itu, kami Bersyukur pemeliharaan Tuhan sangat sempurna Tuhan mencukupkan semua yang kami perlukan, menghidupi empat orang anak tidak mudah tentunya, namun Tuhan dengan cara yang ajaib selalu menolong kami dari dulu waktu kami di Papua, dan di manapun Tuhan yang kami layani tetap sama, tidak pernah kami kekurangan yang baik ujar gembala ini bersemangat.

 

Bersyukur saya dan istri di percayakan oleh Tuhan dengan memberi kami lahan Perkebunan Salak yang bisa di bilang lumayan luas untuk Menopang Pelayanan dan modal kehidupan kami waktu itu, sampai bisa mendirikan gereja kecil ini ujarnya. Di usianya sekarang pak Gembala inipun masih ke kebun salak miliknya, Beliau bersyukur dalam pelayanan sekarang sudah ada Generasi yang meneruskan Pelayanannga yaitu Cucu Perempuan yang sudah di persiapkannha, tiap ibadah pelayanan Minggu saya selalu di Bantu oleh anak- anak dan menantu ujarnya.
Ibadah hari ini walaupun di iringi musik dengan alat musik yang seadanya, dan bukan pemain musik yang handal seperti di perkotaan, dan gereja yang tidak memiliki alat pendingin udara, Berbeda dengan gereja di kota besar yang memiliki alat musik yang lengkap dengan peralatan musiknya yang canggih dan tentu dengan personil pemain musik yang hebat dan dengan Jumlah Jemaat yang besar pastinya, namun Sukacita beribadah terasa sangat Berkesan, terlebih lagi rasa kekeluargaan yang sangat terasa, mungkin karna jumlah Jemaatnya yang sedikit, sehingga membuat para jemaat jadi lebih akrab.

Sebelum saya pulang saya menyempatkan diri untuk menyapa beliau, berbincang sedikit dan beliau Bercerita saya masih sementara membangun untuk menyelesaikan gereja ini sambil menunjuk ke Beberapa bagian yang belum Rampung, saya berusaha tidak membebankan jemaat karna saya tau kemampuan jemaat seperti apa, berharap natal ini sudah selesai semua, hidup saya itu hanya bermodalkan iman dan percaya ujarnya mantap.

(Michelle Tan)

No More Posts Available.

No more pages to load.