
Sampang, paradigmanasional.id – Rumah Sakit Daerah (RSD) Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, diduga kurang memberikan pelayanan maksimal terhadap Pasien yang masuk jalur Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Pasien tersebut berinisial (N), Warga Desa Bira Timur, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang.
Menurut Anam (anak pasien), bahwa orang tuanya masuk ke rumah RSD Ketapang mulai hari Sabtu (20/08/2022) siang, melalui jalur BPJS. Namun kata dia pihak RSD Ketapang menyuruh pihak keluarga pasien untuk menebus atau membeli obat di diluar, disebabkan stok obat di RSD Ketapang tidak ada.
Bahkan kata dia, untuk mengecek penyakit ibuknya melalui Laboratorium (Lab) dirinya juga mengeluarkan uang pribadi untuk membayarnya.
“Anehnya kenapa kalau peserta BPJS setiap perlu obat itu selalu tidak ada stoknya, kan aneh gitu mas,” keluh Anam kepada media ini. Minggu 21/08/2022.
“Sehingga kita itu harus beli di apotek di luar, kita kan gak tau disuruh beli diluar apakah diganti, kan gak ada pemberitahuan dari pihak rumah sakit, kita orang awam. Taunya kalau BPJS itu kan gratis,” imbuhnya.
Lebih lanjut Anam mengatakan bahwa pihaknya menggunakan BPJS berharap tidak ribet dan bisa membantunya agar lebih mudah.
“Tapi kita masih di buat ribet kayak gini. Kami itu merasa tidak nyaman, sama halnya kita berobat dirumah, dan beli ke apotek,” paparnya.
“Seharusnya di rumah sakit itu yang menerima pasien BPJS, itu stok-stok obat itu semuanya harus ada, sehingga pasien kalau butuh obat kalau mencari obat tidak kemana-mana,” tegasnya.
Adapun resep terkait pembelian obat tersebut kata Anam, itu dari rumah sakit, dan dibawak ke Farmasi, namun di Farmasi tidak ada obat, baru pihaknya membeli di apotek. Namun diapotek tersebut resepnya diambil, akan tetapi tidak dikasih kwitansi, pihaknya bayar dengan uang pribadi. Bahkan kata Anam, setelah sedikit ada kritikan obat yang tadinya tidak ada dirumah sakit, tiba-tiba ada obat dan di kasih.
“Untuk obat itu belinya di apotek di depan rumah sakit kurang lebih sekitar 30 ribu, selebihnya obat itu diambilkan, setelah ada kritikan, pas langsung ada obat itu dikasih, jadi kurang lebih sama LAB nya itu 500 ribu, kalau LAB nya itu jelas 470 ribu” ungkapnya.
“Kalau dari segi pelayanannya kurang baik pada pasien, jadi untuk kenyamanan pelayanan di rumah sakit Ketapang itu kurang baik,” sesalnya.
Sementara itu, Direktur RSD Ketapang, dr. Sukarno, saat dikonfirmasi media ini terkait pasien membeli obat diluar, mengatakan bahwa persedian obat yang diperlukan pasien tersebut di RSD Ketapang masih kosong. Namun kata dia untuk pembelian obat itu akan diganti dari pihak RSD Ketapang.
” Oh itu karena persedian lagi kosong obat itu mas, tapi biar nanti diganti itu kalau obat dari rumah sakit, karena itu tanggung jawab dari rumah sakit, nantik kwitansinya Jangan dibuang, itu karena kosong obat, persedian kosong, kiriman telat dari distributor itu, karena telat pengiriman sampai kosong, jadi terpaksa beli diluar,” katanya. Minggu, (21/08/2022) malam.
Disinggung terkait pemeriksaan Laboratorium (Lab) yang berbayar, dr. Sukarno menerangkan bahwa alat dan bahannya pemeriksaan Laboratorium tersebut menyewa bukan milik Pemerintah.
” Itu memang sementara bayar sebelum kami bisa mengadakan alatnya. Kalau keberatan gak mau sebenarnya gak apa-apa menolak, kerena kemaren sudah dijelaskan ke pihak keluarga katanya mau, sudah dijelaskan dokter kita butuh pemeriksaan itu, tapi bayar karena kita alatnya masih nyewa belum punya sendiri,” jelasnya.
“Untuk pasien ibu berinisial (N) setelah koordinasi dengan dinkes dan bpjs akan kami ganti untuk pembelian obat diluar dan biaya lab nya,” tandasnya.

Namun, kabar terbaru saat ini pasien berinisial (N) tersebut kini di bawa pulang paksa dari RSD Ketapang oleh pihak keluarga untuk dirawat ke rumah sakit (RS) yang lain. lantaran pelayanan di RSD Ketapang tersebut diduga kembali kurang maksimal, dan terpaksa daftar ulang lagi karena tidak diberikan surat rujukan dari ketapang.
Pasalnya, pasien berinisial (N) tersebut sempat mengalami kritis dan hampir tidak tertolong.
Hal itu kembali di ungkapkan oleh Anam (Anak Pasien) kepada media ini mengatakan, “ibuk saya hampir tidak tertolong sehingga ibu saya keluarkan dari rumah sakit, dan saya bawak ke RS Pamekasan sampek sekarang, tadi malem saya jam 03 malam pulang dari sampang karena ke adaan nya kritis,” ungkap Anam, Selasa 23/08/2022.
Bahkan kata dia, dirinya saat meminta surat rujukan dari RSD Ketapang tidak di berikan, dengan alasan RSD Ketapang masih mampu menangani.
“saya tadi sendiri mintak surat rujukan ngak di kasih oleh pihak RSD Ketapang, dengan alasan masih mampu menangani, sedangkan ibu saya di sana tidak pernah di kontrol sama sekali, sehinngga saya bawak ibu saya ke rumah sakit di pamekasan sekarang mas,” paparnya.
Diungkapkan juga oleh Anam, bahwa terkait pengembalian uang pembelian obat diluar, dan baiaya pemeriksaan LAB yang dijanjikan oleh direktur RSD Ketapang. Yang ingin mengembalikan uang tersebut tidak ditepati. Bahkan kata dia pihaknya kembali lagi membeli sendiri obat diluar.”Gak ada pengembalian mas, bahkan tadi saya masih beli lagi,” tuturnya.
Sementara direktur RSD Ketapang dr. Sukarno saat kembali dikonfirmasi media ini melalui telepon selulernya terkait pasien di bawa pulang paksa oleh pihak keluarganya. Lantaran diduga pelayanan kurang maksimal, dan dikonfirmasi prihal pengembalian biaya pembelian obat diluar dan pemeriksaan LAB yang berjanji mau mengembalikan, pihaknya mengatakan, ” iya cuman saya pesan ke petugas itu, tapi kalau malam mungkin tidak tersampaikan. Nantik gini aja mas dari pihak keluarga silahkan menemui saya nantik, kita selesaikan untuk urusan yang pembiayaan yang diluar itu akan kita selesaikan, kalau ada keluhan lain nantik silahkan disampaikan” ujar dr Sukarno. Rabu 24/08/2022.
Namun, saat ditanya terkait pihak RSD Ketapang yang tidak memberikan surat rujukan terhadap pasien, dirinya mengatakan bahwa pihaknya masih belum mengetahui kenapa alasannya, sebab masih belum tau dengan petugas yang ada di RSD Ketapang pada waktu itu.
“Iya nantik kita masih belum konfirmasi ke petugasnya, Nantik kita ngobrol saja sama keluarga nantik kita luruskan itu, saya belum tau juga alasannya, karena belum ketemu sama siapa petugas yang bilang seperti itu nantik,” jelasnya.
” Saya mohon minta tolong disampaikan ke keluarga, kalau bisa nantik kita ketemu dimana atau dirumah sakit, dengan membawa bukti pengeluarannya berapa, nantik kita akan selesaikan,” pungkasnya.
Pewarta: @muspn/tim







