Festival Kampung Budaya Polowijen #9 Perkuat Identitas Busana Khas Malang di Tengah Kota Multietnis

oleh -643 Dilihat
oleh

Polowijen, Malang, paradigmanasional.id Festival Kampung Budaya Polowijen (KBP) #9 kembali di gelar 15 februari 2025 yang menegaskan komitmennya dalam merawat dan memperkuat identitas budaya lokal. Salah satu fokus utama tahun ini adalah penguatan busana khas Malang melalui rangkaian Workshop Busana Khas Malang yang berlangsung meriah dan partisipatif.

Kegiatan workshop meliputi pelatihan membatik, pengenalan ragam kebaya, praktik memakai jarik, bersanggul, serta penggunaan Udeng Malang. Program ini dirancang bukan sekadar pelatihan teknis, tetapi sebagai ruang edukasi kultural bagi generasi muda agar memahami filosofi, etika, dan nilai simbolik busana tradisi sebagai representasi jati diri daerah.

*Menggali Akar Identitas di Kota Multikultural*
Sebagai kota besar yang menjadi ruang perjumpaan berbagai etnis Nusantara bahkan mancanegara, Malang berkembang dengan identitas yang majemuk. Namun di tengah keberagaman tersebut, penegasan identitas lokal menjadi kebutuhan mendesak. Hingga saat ini, Kota Malang belum secara resmi menetapkan busana khas sebagai identitas daerah, padahal secara historis dan kultural Malang memiliki kekayaan tradisi yang kuat.

Endah Purwatiningsih, Ketua Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kabupaten Malang, menegaskan pentingnya langkah konkret tersebut.

“Malang sangat kaya sejarah dan kearifan lokal. Melalui workshop ini kami ingin memberikan referensi ragam busana yang bisa disepakati sesuai kegunaannya. Kebaya saja memiliki banyak model dan fungsi, mulai dari kebaya janggan, kutubaru, model Kartinian, encim hingga kebaya modern. Semua harus dikenalkan agar masyarakat memahami kapan dan bagaimana mengenakannya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penetapan identitas busana bukan untuk membatasi ekspresi, melainkan memperjelas karakter budaya lokal di tengah arus globalisasi.

*Regenerasi Berkebaya, Berkain, dan Bersanggul*
Praktik memakai jarik dipandu oleh Sany Repriandini, Ketua Umum Perempuan Bersanggul Nusantara. Ia menyoroti menurunnya minat generasi milenial dan Gen-Z dalam menggunakan busana tradisi.

“Jika tidak diperbanyak sosialisasi, edukasi, event, dan praktik langsung, kita khawatir penggunaan jarik, kebaya, dan sanggul semakin berkurang. Pemerintah perlu menjadi motor penggerak melalui imbauan bahkan kebijakan penggunaan busana tradisi pada momentum tertentu,” tegasnya.

Praktik bersanggul dipandu oleh Wiyanti, Neny, dan Faizah dari Komunitas Perempuan Konde Kebaya. Mereka memperkenalkan teknik dasar hingga filosofi konde sebagai simbol kedewasaan, keanggunan, dan keteguhan perempuan Jawa.

Sementara itu, pelatihan membatik bersama Titik Nurfajriah, Ketua Kerajinan Batik Polowijen, memperkenalkan motif-motif lokal sebagai ekspresi visual identitas Malang. Batik tidak hanya dipahami sebagai kain, tetapi sebagai narasi budaya yang hidup dan berkembang.

*Menghidupkan Kembali Udeng Malang*
Dalam sesi praktik berudeng, budayawan Kota Malang Syamsul Bahri atau Mbah Karjo menegaskan bahwa Malang sejatinya memiliki tradisi ikat kepala yang kuat.
“Gerakan berudeng sudah dimulai sejak 2017 di Alun-Alun Merdeka Malang. Kemudian berlanjut di Museum Mpu Purwa tahun 2022 dan di Taman Krida Budaya Jawa Timur tahun 2024. Udeng Malang memiliki banyak varian, tetapi bisa dikategorikan menjadi dua bentuk utama: kemplengan untuk generasi muda dan jingkengan untuk yang lebih tua. Sudah saatnya ditetapkan secara resmi,” jelasnya.

Menurutnya, selama ini diskursus tentang Udeng Malang lebih banyak berhenti di ruang seminar dan diskusi. Festival seperti KBP menjadi ruang praksis yang menghidupkan kembali tradisi tersebut di tengah masyarakat.

*Rangkaian Festival yang Holistik*
Festival Kampung Budaya Polowijen #9 yang di garap oleh mahasiwa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 pada siang hari digelar Pentas Seni dan Budaya yang menampilkan tari tradisional, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, serta tembang dolanan sebagai bagian dari regenerasi seni tradisi.

Pada sore hari berlangsung prosesi Megengan yang meliputi mocopatan, launching KBP Digital, penandatanganan MoU antara KBP dan Universitas Muhammadiyah Malang, serta wilujengan sebagai ungkapan syukur menyambut bulan suci.

Festival ditutup menjelang petang dengan Nyadran dan arak-arakan topeng sebagai simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus penguatan nilai spiritual dan kebersamaan warga.

*Menuju Penetapan Identitas Budaya Lokal*
Festival Kampung Budaya Polowijen #9 tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga forum konsolidasi gagasan untuk merumuskan identitas busana khas Malang yang representatif dan kontekstual.

Dengan melibatkan komunitas, budayawan, akademisi, dan masyarakat, festival ini diharapkan menjadi pijakan menuju penguatan regulasi dan kesepakatan budaya di tingkat kota. Transformasi digital melalui KBP Digital pun menjadi langkah adaptif agar tradisi tetap hidup di era modern.
Melalui sinergi budaya, edukasi, dan kebijakan, Malang diharapkan mampu menegaskan jati dirinya sebagai kota besar yang tetap berakar kuat pada nilai dan identitas lokalnya.

Sumber berita : KBP/Isa Wahyudi – Red

No More Posts Available.

No more pages to load.