Gerakan Rumah Bebas Jentik, Program Unggulan Atasi Risiko DBD di Desa Bakalan

oleh -1180 Dilihat
oleh

Mojokerto, paradigmanasional.id31 Januari 2025. Meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Mojokerto, khususnya di Desa Bakalan, mendorong sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Airlangga untuk mengambil langkah proaktif melalui peluncuran program inovatif “Gerakan Rumah Bebas Jentik.”

Program ini bertujuan untuk meminimalkan risiko penyebaran DBD melalui pendekatan komprehensif berbasis komunitas.

Musim hujan yang berlangsung pada awal 2025 telah meningkatkan risiko penyebaran penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, terdapat peningkatan signifikan dalam jumlah kasus DBD dibandingkan tahun sebelumnya.

Desa Bakalan, salah satu wilayah dengan tingkat kepadatan penduduk tinggi, masuk dalam zona merah penyebaran nyamuk Aedes aegypti, faktor utama penyakit ini. Kondisi lingkungan seperti genangan air, kurangnya sanitasi, dan minimnya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit menjadi faktor penyebab tingginya angka kasus.

Dalam menghadapi ancaman ini, tim KKN BBK-5 Unair merancang program “Gerakan Rumah Bebas Jentik” dengan pendekatan multidimensi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Program ini mencakup pemeriksaan berkala jentik nyamuk, edukasi masyarakat, dan pemanfaatan media digital untuk kampanye kesehatan.

Semua langkah dirancang untuk meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam mencegah dan menangani ancaman DBD.
Salah satu langkah utama program ini adalah pemeriksaan jentik nyamuk secara berkala di seluruh rumah warga Desa Bakalan yang telah dilaksanakan pada Senin (20/01/2025).

Dalam pelaksanaannya, tim mahasiswa bekerja sama dengan kader kesehatan desa untuk melakukan inspeksi menyeluruh. Warga yang ditemukan memiliki tempat penampungan air dengan jentik nyamuk diberi edukasi langsung dan bantuan berupa pemberian larvasida (ABATE) untuk mengendalikan populasi nyamuk.

Selain intervensi langsung, program ini juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat. Mahasiswa mengadakan kampanye pencegahan DBD melalui sosialisasi langsung, membagikan leaflet, dan memproduksi iklan layanan masyarakat (ILM).

Materi edukasi disampaikan dalam bentuk yang mudah dipahami, yaitu video pendek yang menjelaskan praktik pencegahan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) secara praktis.
Menurut Imron Yahya, Sekretaris Desa Bakalan, iklan layanan masyarakat yang dibuat oleh mahasiswa akan sangat membantu dalam menyebarkan informasi.

“Media edukasi ini dapat disebarluaskan dengan cepat dan mudah ke seluruh warga. Ini sangat strategis untuk membangun kesadaran kolektif,” ujarnya.

Program “Gerakan Rumah Bebas Jentik” menggunakan pendekatan sistematis yang mencakup identifikasi risiko, intervensi langsung, dan edukasi berbasis digital. Langkah-langkah ini dirancang untuk memberikan solusi yang tidak hanya efektif tetapi juga berkelanjutan.

Seluruh rumah di Desa Bakalan menjadi target pemeriksaan jentik nyamuk, dengan tingkat cakupan mencapai 80%. Rumah yang ditemukan memiliki risiko tinggi langsung diberikan penanganan berupa larvasida dan rekomendasi tindakan pencegahan. Selain itu, tim juga melakukan pemetaan area berisiko untuk memprioritaskan intervensi di wilayah dengan tingkat kasus DBD yang tinggi.

Pemanfaatan teknologi digital menjadi komponen penting dalam program ini. Mahasiswa memproduksi konten multimedia yang berisi informasi tentang pencegahan DBD. Konten ini disebarkan melalui platform media sosial lokal yang banyak diakses oleh warga, seperti grup WhatsApp komunitas. Dengan materi edukasi yang menarik dan mudah dipahami, masyarakat dari berbagai kalangan dapat dengan cepat mengadopsi langkah-langkah pencegahan.

Program “Gerakan Rumah Bebas Jentik” diharapkan dapat memberikan dampak signifikan dalam menurunkan angka kejadian DBD di Desa Bakalan. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan penyakit melalui tindakan sederhana namun efektif. Dengan terciptanya budaya pencegahan kesehatan mandiri, diharapkan desa ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kabupaten Mojokerto.

Menurut data dari World Health Organization (WHO), implementasi program berbasis komunitas dapat mengurangi kasus DBD hingga 40% jika dilakukan secara konsisten. Hal ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara masyarakat dan pemangku kepentingan lokal, seperti yang dilakukan dalam program ini, memiliki potensi besar untuk mengatasi permasalahan kesehatan di tingkat akar rumput.

(Tim KKN BBK-5 Universitas Airlangga serta data pendukung dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto) .

No More Posts Available.

No more pages to load.