Hidupkan Pawon, Rawat Gotong Royong: Mahasiswa KKN Tematik UMM Olah Singkong Jadi Jajanan Tradisional di Kampung Budaya Polowijenl

oleh -115 Dilihat
oleh

Malang, paradigmanasional.idKampung Budaya Polowijen (KBP) terus menghidupkan pawon sebagai dapur tradisional Jawa yang dimaknai bukan sekadar tempat memasak, tetapi sebagai ruang edukasi sosial budaya. Pawon menjadi pusat interaksi warga, ruang rewang, serta sarana menanamkan nilai gotong royong, kebersamaan, dan pelestarian tradisi kuliner lokal yang kian tergerus modernisasi.

Senin, 26 Januari 2025, Kelompok 14 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melaksanakan KKN Tematik di Kampung Budaya Polowijen mempraktikkan pembuatan jajanan tradisional berbahan dasar singkong yang dipanen dari pekarangan warga. Kegiatan ini diikuti oleh Desfian Achmad Saputra (Hukum), Najwa Nabila (Farmasi), dan Elsa (Ilmu Kesejahteraan Sosial).

Pemangku Pawon KBP, Siti Juwariyah, mengaku senang pawon masih menjadi ruang belajar lintas generasi.
“Saya senang anak-anak muda masih mau dan bisa membuat jajanan tradisional. Di pawon KBP ini segala macam makanan tradisional bisa dibuat, mulai dari bubur selametan, jenang gede, cenil, kue srabi, apem, sampai masak sego berkat dan tumpeng. Semua biasanya dibuat di pawon ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, pawon KBP juga terbuka bagi pengunjung yang ingin mengambil paket edukasi membuat jajanan tradisional maupun sekadar mencicipi hidangan khas.

Kegiatan diawali dengan pengenalan singkong sebagai bahan utama jajanan pasar karena rasanya gurih, teksturnya kenyal, dan harganya terjangkau. Beragam olahan diperkenalkan, seperti getuk, misro, combro, lemet, sawut, sentiling, sate singkong, putri noong, onde-onde singkong, timus, keripik, tape singkong, hingga singkong keju yang umumnya disajikan dengan parutan kelapa.

Mahasiswa juga mempelajari pembuatan wadah makanan dari daun pisang, mulai dari takir, pincuk, sudi, sumpil, tempelang, pinjung, hingga pasung. Proses melipat dan menyemat daun pisang ini menjadi bagian penting dari pembelajaran kuliner tradisional yang ramah lingkungan.

Salah satu peserta KKN, Najwa Nabila, mengaku kegiatan ini terasa dekat dengan pengalaman pribadinya.
“Sebenarnya jajanan seperti ini masih sering saya jumpai di kampung halaman saya. Saya juga pernah membantu ibu membuat jajanan lemet, dan kalau ke pasar tradisional masih bisa menemukan jajanan singkong seperti ini,” ujarnya.

Proses pembuatan lemet singkong dilakukan secara tradisional, mulai dari mencampur singkong parut, gula merah, kelapa parut, dan garam, kemudian dibungkus daun pisang dan dikukus menggunakan tungku kayu bakar di pawon KBP dengan dandang logam dan kukusan anyaman bambu.

Setelah matang, jajanan tradisional tersebut dihidangkan dan dinikmati bersama seluruh mahasiswa KKN Tematik UMM. Melalui pawon, Kampung Budaya Polowijen tidak hanya melestarikan kuliner tradisional, tetapi juga menumbuhkan ruang belajar bersama yang memperkuat solidaritas, gotong royong, dan kesadaran budaya lintas generasi.

Sumber berita : Kampung Budaya Polowijenl/Red

No More Posts Available.

No more pages to load.