Malang, paradigmanasional.id — Suasana siang ini, Rabu, 18 februari 2026 di Kampung Budaya Polowijen tampak berbeda. Irama kentongan, kenong, kendang jimbe, hingga bunyi galon dan perkakas dapur berpadu membentuk harmoni khas yang menggugah semangat Ramadan. Mahasiswa KKN Tematik UMM 2026 Kelompok 14 menggelar latihan Patrol gugah saur sebagai bagian dari program pelestarian budaya berbasis masyarakat.
Latihan tersebut dipandu oleh Aak Agus Wayan, komposer musik etnik dari komunitas seni Arca Tatasawara. Komunitas ini dikenal sebagai kelompok musik etnik seniman Malang yang kerap mengisi panggung-panggung budaya serta tampil di situs-situs bersejarah seperti Candi Kidal, Candi Singhasari, hingga Candi Borobudur, serta berbagai event nasional lainnya.
Dalam sesi pelatihan, Aak Agus Wayan tidak hanya memberikan materi teknis ritme dan komposisi, tetapi juga menanamkan nilai filosofis Patrol sebagai warisan leluhur. Ia menegaskan bahwa menghidupkan kembali kentongan sebagai instrumen utama Patrol merupakan bagian dari pelestarian tradisi dan identitas budaya lokal.
“Kentongan itu bukan sekadar alat bunyi,” ujarnya. “Ia adalah simbol kewaspadaan dan komunikasi sosial. Sejak dulu kentongan digunakan untuk memanggil warga, memberi tanda bahaya, penanda waktu ronda, hingga menjadi sarana ekspresi musikal. Menghidupkan kentongan berarti menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat.”
Patrol gugah saur atau patrol on the road ini akan dilaksanakan selama tujuh hari ke depan di sepanjang Jalan Cakalang dan Jalan Polowijen. Mahasiswa berharap kegiatan ini tidak berhenti pada masa KKN saja, melainkan dapat diteruskan oleh warga sebagai tradisi tahunan.
Penggunaan alat-alat sederhana seperti kentongan bambu, kenong, kendang jimbe, galon air, serta perkakas dapur sengaja dipilih untuk mengembalikan kemurnian Patrol tempo dulu. Tembang-tembang Jawa dan sholawat Jawa turut dilantunkan sebagai bagian dari penguatan identitas spiritual dan kultural masyarakat.
Inisiatif ini juga menjadi bentuk penyeimbang di tengah maraknya patrol modern yang menggunakan sound horeg maupun format perkusi tong-tong di berbagai daerah. Meski praktik sound horeg tidak pernah terjadi di Polowijen, mahasiswa KKN Tematik UMM berupaya menghadirkan alternatif yang tetap meriah namun berakar pada nilai tradisi.
Menurut Aak Agus Wayan, bambu sebagai bahan utama kentongan memiliki makna ekologis dan filosofis yang mendalam. “Bambu adalah simbol kesederhanaan, ketahanan, dan kebersamaan. Dari bambu lahir banyak instrumen tradisional Nusantara. Di tengah kelangkaan alat musik bambu saat ini, penting bagi generasi muda untuk kembali memanfaatkannya sebagai media kreativitas, inovasi, dan kolaborasi dengan instrumen lain.”
Secara sosial, Patrol gugah saur bukan hanya kegiatan membangunkan sahur, tetapi juga sarana membangun kohesi sosial, mempererat solidaritas antarwarga, serta menumbuhkan kesadaran budaya pada generasi muda. Bunyi kentongan yang berirama menjadi penanda bahwa tradisi masih hidup, bergerak, dan diwariskan
Desfial Achmad Saputra Koordinator kelompok 14 mahasiswa KKN tematik UMM Brdampak UMM 26 menyampaikan bahwa “pada saat patrol berlangsung akan di damping oleh Humas UMM yang akan mendatangkan influencer guna meningkatkan promosi Kampung Budaya Polowijen dalam pelestarian budaya tradisional sekaligus bagi bagi makanan saur di sepanjang jalan. ”
Kegiatan ini menegaskan bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi. Sebaliknya, melalui kreativitas mahasiswa dan dukungan seniman lokal, Patrol gugah saur di Kampung Budaya Polowijen menjadi bukti bahwa warisan leluhur dapat terus relevan, adaptif, dan bermakna di tengah perubahan zaman.





