Peluang Kerja WNI di Jepang dalam Perspektif Dual Labour Market Theory Michael J. Piore

oleh -39 Dilihat
oleh

Jakarta, paradigmanasional.id – Pada Sabtu (13/6/2026) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) membuka kembali pendaftaran untuk masyarakat yang membutuhkan pekerjaan melalui Program Pemagangan Jepang dan Pelatihan Kaigo. Kebijakan ini muncul dikarenakan Jepang yang membutuhkan tenaga kerja akibat menurunnya tenaga kerja dengan usia produktif. Program tersebut dibentuk agar masyarakat terbekali dengan kemampuan dasar Bahasa Jepang serta keterampilan kerja dalam berbagai sektor demi meningkatkan peluang pendapatan yang lebih tinggi.

“Kesempatan kerja global harus diimbangi dengan kesiapan kompetensi yang memadai. Karena itu, Kemnaker terus memperkuat pelatihan vokasi dan pemagangan agar tenaga kerja Indonesia mampu bersaing dan beradaptasi di lingkungan kerja internasional, termasuk di Jepang,” kata Darmawansyah selaku Direktur Jendral Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) Kemnaker dalam pers Biro Humas Kemnaker, Sabtu (13/6/2026).

Kebijakan tersebut dapat dianalisis melalui Dual Labour Market Theory oleh Michael J Piore. Menurutnya, migrasi tenaga kerja melewati batas negara dapat disebabkan oleh faktor kebutuhan struktural negara maju dalam sektor tertentu. Dalam teori ini tenaga kerja digolongkan menjadi dua, yaitu pasar tenaga kerja primer dan pasar tenaga kerja sekunder.

Pasar tenaga kerja primer merupakan pekerjaan dengan upah tinggi, pekerjaan dengan stabilitas dan prospek kerja baik, seperti pekerja kantoran. Sedangkan pasar tenaga kerja sekunder merupakan pekerjaan dengan upah rendah dan kondisi kerja berat yang bersifat dirty, dangerous, difficult. Contohnya adalah pekerjaan sektor konstruksi dan perawat lansia.

Dalam perspektif Piore, meningkatnya kebutuhan tenaga kerja Jepang berasal dari kosongnya tenaga kerja pada sektor pasar tenaga kerja sekunder akibat dari sedikitnya minat pekerja lokal. Maka dari itu, dengan membuka tenaga kerja asing dari Indonesia merupakan alternatif untuk menghadapi permasalahan tersebut.

Informasi mengenai pembukaan kesempatan kerja bagi masyarakat Indonesia menunjukkan adanya faktor penarik (pull factor) dari Jepang menjadi factor utama dalam proses migrasi tenaga kerja. Ini sejalan dengan pernyataan Piore mengenai permintaan tenaga kerja di negara tujuan adalah pendorong utama migrasi internasional. Data yang menunjukkan kebutuhan ratusan ribu tenaga kerja di Jepang memperlihatkan migrasi pekerja Indonesia tidak hanya merupakan respons terhadap situasi ekonomi dalam negeri, tetapi juga bagian dari kebutuhan struktural ekonomi Jepang yang memerlukan pasokan tenaga kerja yang berkelanjutan.

Program magang dan penempatan kerja memberikan keuntungan dalam bentuk peningkatan kemampuan, transfer pengetahuan, serta kesempatan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar bagi tenaga kerja Indonesia. Namun, ada kemungkinan bahwa sejumlah pekerja migran tetap terfokus pada sektor pasar tenaga kerja sekunder.

Situasi ini menandakan migrasi tenaga kerja Indonesia ke Jepang bukan sekedar mobilitas individu, tetapi juga berdasarkan segmentasi pasar tenaga kerja global yang sesuai diuraikan oleh Piore dalam Dual Labour Market Theory. Teori ini berperan mengungkap alasan terbukanya kesempatan kerja di Jepang, serta memperlihatkan migrasi tenaga kerja tidak hanya menyelesaikan permasalahan kekurangan pekerja Jepang, namun juga memberikan keuntungan bagi pekerja asal Indonesia. (Gladies Laudine Saragih)

No More Posts Available.

No more pages to load.