Peringatan Hari Kartini di Candi Kidal: Membaca Relief, Menyulam Makna Perjuangan Perempuan

oleh -14 Dilihat
oleh

Malang, paradigmanasional.id 26 April 2026. Komunitas Kain Kebaya Indonesia (KKI) Kabupaten Malang kembali meneguhkan komitmennya dalam pelestarian budaya dengan menggelar peringatan Hari Kartini di kawasan bersejarah Candi Kidal, Minggu (26/4). Kegiatan ini berlangsung khidmat, sarat makna, sekaligus menjadi ruang edukasi budaya dan refleksi nilai perjuangan perempuan lintas zaman.

Mengangkat semangat Raden Ajeng Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan, acara ini juga mengaitkan nilai tersebut dengan kisah klasik dalam relief Garudeya. Relief tersebut menggambarkan pengorbanan seekor Garuda dalam membebaskan ibunya, Dewi Winata, dari perbudakan—sebuah simbol bakti anak kepada ibu sekaligus penghormatan terhadap martabat perempuan.

Sekitar 50 anggota KKI Kabupaten Malang mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi pembelajaran sejarah candi melalui pembacaan relief, penampilan tari tradisi dari Sanggar Setyotomo Glagahdowo Tumpang, serta praktik membuat kerajinan dari janur. Kehadiran para pelaku budaya seperti Ki Suroso, Ki Demang, Syamsul Bahri, Ki Seta, serta Joko Rendi turut memperkaya suasana dengan nuansa kebudayaan yang kental.

Narasumber utama, Rakai Hino Galeswangi, menjelaskan bahwa Candi Kidal merupakan candi bercorak Hindu yang terkenal dengan relief Garudeya. Kisah tersebut tidak hanya berbicara tentang pembebasan dari perbudakan, tetapi juga mengandung pesan mendalam mengenai bakti, pengorbanan, dan posisi penting seorang ibu dalam peradaban.

“Dalam kisah Garudeya, terlihat bagaimana seorang anak membela dan mengangkat derajat ibunya. Ini menunjukkan bahwa sejak masa Hindu-Buddha, perempuan memiliki posisi yang dimuliakan dan setara. Bahkan dalam tradisi Islam, ibu disebut tiga kali untuk diutamakan. Artinya, perempuan adalah sumber inspirasi dan pusat nilai kehidupan,” jelasnya.

Ketua KKI Kabupaten Malang, Endah Purwatiningsih, menegaskan bahwa pemilihan lokasi di Candi Kidal bukan tanpa alasan. Menurutnya, candi ini merupakan ikon simbolik perjuangan seorang ibu yang relevan untuk dipahami dalam momentum Hari Kartini.

“Kami ingin para perempuan, khususnya anggota KKI, memahami bahwa nilai perjuangan perempuan tidak hanya hadir dalam sejarah modern, tetapi juga telah tertanam kuat dalam warisan budaya leluhur,” ujarnya.
Ia juga mengajak para perempuan untuk terus melestarikan budaya melalui keluarga dan lingkungan sosial dengan menjaga nilai-nilai sopan santun, tata krama, dan budi pekerti yang tercermin dalam relief-relief candi.

Kegiatan yang tidak kalah seru ibu ibu KKI di pelataran Candi Kidal di bawah pohon rindang diajak praktek membuat kerajinan anyaman janur yang di pandu oleh Mbah Karjo Syamsul Bahri dan Bu Suli. Mbah Karjo menekankan bahwa di Hari Kartini ini Ibu Ibu harus kembali mengausai kemampuan seorang bidadari yang diturunkan ke Arcapada yaitu bumi untuk membantu Arjuna di Gunung Indrakilo.

Ke tujuh bidadari itu adalah Gagar Mayang, Leng Leng Mulat, Tunjung Biru, Warsiki, Mini Towok, Irim-irim, Dewi Suprobo. Kesemua ketrampilan tujuhb bidadari dapat di manistasi dalam kehidupan sehari hari dan salah satunya dengan merangkai janur dengan 9 jenis kerisan, payung, pecutan, rontekm kapasan, manuk lanang manuk wedok, payung, kembang mawar dan kembang ceplok yang semua untuk hiasan penuh makna.

Kegiatan ditutup dengan kebersamaan yang hangat melalui tari Gambyong “Mari Kangen” di pelataran candi, dipandu oleh Endang, anggota KKI sekaligus pemilik Sanggar Topeng Setyotomo Glagahdowo. Tarian ini menjadi simbol kegembiraan sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang terus hidup dan diwariskan.

Peringatan Hari Kartini kali ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah upaya membaca ulang sejarah, menggali makna, dan meneguhkan kembali peran perempuan sebagai pilar utama dalam kehidupan—baik dalam keluarga, masyarakat, maupun peradaban.

Sumber berita: KBP/ki Demang/Red

No More Posts Available.

No more pages to load.