Kotamobagu, paradigmanasional.id – SMA Negeri 2 Kotamobagu menggelar seminar terkait projek penguatan profil pelajar Pancasila. Dengan Tema Bangunlah Jiwa dan Raganya Kamis (8/9/22).
Kegiatan ini turut dihadiri oleh pihak Polres Kotamobagu yang menjadi pemateri. Dan dinas terkait yaitu Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Kota-kotamobagu.
Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kotamobagu AIPDA Zulfikri Darwis, SH.,MH saat memberikan materinya lebih kepada penjelasan terkait Undang-undang no 11 tahun 2012.
” Jadi lebih berhati-hatilah anak-anak usia 14 tahun ke atas yaitu tentang Bullying di sekolah, pelecehan seksual, karena bisa terjerat dengan Undang-undang no 11 tersebut.” tutur Darwis.
Nah perlu juga di sampaikan kepada guru-guru di SMAN 2 Kotamobagu agar lebih ditingkatkan pengawasan terhadap anak-anak ketika sedang belajar di kelas, dan pada saat pulang sekolah. Jangan sampai terjadi hal-hal yang kita tidak inginkan bersama.
Kepala sekolah SMA Negeri 2 Kotamobagu Drs. I Ketut Gunawan MM kepada wartawan Paradigma menyampaikan kami mengambil obsi tiga yaitu mandiri berbagi untuk Kurikulum Merdeka.
” Ini semua tentang projek penguatan profil pelajar Pancasila.” ujar Gunawan.
Didalam itu tema yang di ambil Bangunlah Jiwa dan Raganya. Kemudian, mengambil topik stop Perundungan atau Bullying.
” Apa sih perundungan itu? Perundungan atau bullying adalah perilaku tidak menyenangkan baik secara verbal, fisik, ataupun sosial di dunia nyata maupun dunia maya yang membuat seseorang merasa tidak nyaman, sakit hati dan tertekan baik dilakukan oleh perorangan ataupun kelompok.” terang Gunawan.
Kenapa kami mengambil topik tersebut, karena ini penting sekali bagi masa depan pendidikan anak-anak kita Kedepan.
” Saya berharap untuk guru-guru dan anak-anak siswa kita, apa yang disampaikan terkait perundungan benar-benar terserap dan bisa di implementasikan di dalam dunia pendidikan dan kehidupan bermasyarakat.” tandas Gunawan.
Hal terpenting itu juga, sasarannya lebih kepada pertumbuhan jiwa, dan mental anak-anak. Agar kecerdasan serta wawasan mereka akan lebih baik lagi ketika mengikuti seminar.
” Jujur saja baru SMAN 2 yang membuat kegiatan seminar seperti ini. Kami lakukan secara mandiri, berupaya sebaik mungkin untuk bisa memaksimalkan sumberdaya demi mencapai output yang maksimal.” pungkas Gunawan.
#Denny.D#






