Sultan Salahuddin Diabadikan Sebagai Pahlawan Nasional, Momentum NTB Menjadi Teladan Ekonomi Rakyat.

oleh -602 Dilihat

Jakarta, paradigmanasional.id Tidak semua pahlawan lahir dari peperangan dan darah. Sebagian lahir dari kebijaksanaan, dari keberanian menjaga tanahnya, dan dari cinta yang tidak pernah meminta imbalan. Di antara mereka ada seorang pemimpin dari timur, dari tanah Bima, NTB yang penuh cahaya, bernama Sultan Muhammad Salahuddin, yang kini resmi diabadikan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto.

Dalam pandangan R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, sekaligus Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, penganugerahan itu bukan sekadar seremoni negara, melainkan pernyataan moral bahwa bangsa Indonesia tidak pernah kehilangan arah sejarahnya.
*“Bangsa yang menghargai perjuangan dari timur dan barat, dari utara dan selatan, sedang menegakkan keadilan bagi sejarahnya sendiri,”* tegas Haidar Alwi.

Dan kini, sejarah yang dulu berbisik pelan di ufuk timur akhirnya bersuara lantang di jantung negeri.

*Dari Istana Negara, Cahaya Itu Menyala Kembali.*

Tanggal 10 November 2025 menjadi hari bersejarah bagi masyarakat Bima dan seluruh Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025, Sultan Muhammad Salahuddin resmi diabadikan sebagai Pahlawan Nasional pertama dari Bima dan NTB.

Upacara penganugerahan di Istana Negara dihadiri keluarga besar Kesultanan Bima, tokoh NTB, dan para pejabat tinggi negara. Namun bagi rakyat, upacara itu lebih dari sekadar simbol: ia adalah penebusan waktu, sebuah momen di mana negara menatap kembali jasa dari tanah yang dulu mungkin tak begitu terdengar.

Haidar Alwi menilai keputusan Presiden Prabowo sebagai langkah berani dalam menegakkan keadilan sejarah.
*“Ketika seorang pemimpin dari Bima disebut pahlawan nasional, maka sejatinya seluruh Indonesia sedang belajar rendah hati di hadapan sejarahnya sendiri,”* ujar Haidar Alwi.

*Sultan Muhammad Salahuddin: Pemimpin Rakyat dan Penjaga Alam.*

Penghormatan di Istana itu bukan sekadar prosesi, tapi panggilan untuk membuka kembali halaman sejarah yang sempat dilipat diam-diam.

Sultan Muhammad Salahuddin lahir di Bima pada 14 Juli 1889 dan memerintah sebagai Sultan ke-XIV hingga wafat tahun 1951. Beliau bukan sekadar penguasa, tetapi pelindung rakyat dan penjaga bumi. Pada 22 November 1945, beliau mengeluarkan Maklumat Sultan Bima yang menegaskan bahwa wilayah Bima bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di masa penjajahan, Sultan Salahuddin dikenal menolak monopoli hasil bumi oleh Belanda. Beliau memajukan sekolah rakyat, membuka kesempatan belajar bagi perempuan, dan memperjuangkan ekonomi berbasis hasil pertanian dan laut. Filosofinya sederhana namun agung: *“Tanah adalah amanah, bukan komoditas.”*

Bagi Haidar Alwi, Sultan Salahuddin adalah pionir ekonomi rakyat di masa pra-kemerdekaan.
*“Beliau sudah mempraktikkan ekonomi Pancasila sebelum UUD ditulis. Beliau tahu bahwa kemakmuran tanpa keadilan hanyalah bentuk baru dari penjajahan,”* jelas Haidar Alwi.

Nilai yang ia tanam di tanah Bima kini menemukan bentuk barunya, ketika rakyat NTB berdiri di hadapan tantangan baru: menjaga kekayaan alam agar tidak dirampas oleh zaman.

*NTB dan Amanah Kekayaan Alam yang Tak Boleh Dikhianati.*

Kini NTB dikenal sebagai wilayah kaya sumber daya alam: emas, tembaga, nikel, pasir besi, dan sumber energi baru terbarukan. Tapi di balik itu, ada ironi yang tak boleh diabaikan, sebab masih banyak rakyat di sekitar tambang yang belum menikmati hasil bumi mereka sendiri.

Haidar Alwi memandang, semangat Sultan Salahuddin adalah peringatan moral bagi masa kini.

*“Jangan biarkan tanah NTB menjadi kaya tapi rakyatnya tetap miskin. Jangan biarkan tambang menjadi milik korporasi tanpa hati. Kekayaan alam hanya bermakna jika ia membawa kesejahteraan bagi pemilik sejatinya: rakyat,”* tegas Haidar Alwi.

*“Sultan Salahuddin menjaga bumi dengan hati, maka tugas kita hari ini menjaga sistem dengan nurani,”* tambah Haidar Alwi.

*Prabowo dan Kesadaran Baru dalam Sejarah Ekonomi Bangsa.*

Namun penghormatan sejarah tidak berhenti di Istana. Ia harus hidup di pasar, di tambang, di sawah, dan di rumah-rumah rakyat yang menunggu keadilan nyata.

Haidar Alwi menilai langkah Presiden Prabowo menobatkan Sultan Salahuddin sebagai pahlawan bukan hanya penghargaan sejarah, tetapi pesan politik yang sangat dalam: bahwa pembangunan Indonesia harus berakar pada kedaulatan ekonomi rakyat.

Menurut Haidar Alwi, Prabowo Subianto adalah pemimpin yang berani menghidupkan kembali nilai keadilan sosial dalam kebijakan ekonomi nasional. Melalui hilirisasi tambang, kemandirian energi, dan industrialisasi berbasis potensi daerah, Prabowo menunjukkan arah baru: Indonesia yang berdiri di atas sumber daya sendiri.

*“Ketika Prabowo memberi gelar kepada Sultan Salahuddin, beliau sejatinya sedang memberi semangat kepada seluruh rakyat NTB: bangkit, berdiri, dan kelola kekayaanmu sendiri,”* kata Haidar Alwi.

*NTB Sebagai Teladan Ekonomi Rakyat.*

NTB kini berada di titik penting sejarahnya. Di satu sisi, daerah ini kaya sumber daya; di sisi lain, rakyatnya mulai bangkit melalui koperasi tambang dan pertanian rakyat di Dompu, Sekotong, dan Bima.
Inilah yang disebut Haidar Alwi sebagai kebangkitan ekonomi nurani.

*“Sultan Salahuddin melindungi rakyatnya dengan keberanian. Kini rakyat NTB harus melanjutkannya dengan kecerdasan,”* ujar Haidar Alwi.

Baginya, NTB bisa menjadi laboratorium keadilan ekonomi Pancasila, tempat di mana rakyat dan negara berdiri sejajar dalam mengelola sumber daya alam.

Haidar Alwi menegaskan bahwa NTB dapat menjadi model nasional bagi sistem ekonomi berbasis rakyat, bukan menolak investor, tetapi memastikan investor tunduk pada etika dan keadilan.

*“Zaman boleh berubah, tapi semangat kedaulatan harus tetap hidup. Dari tambang hingga sawah, dari laut hingga matahari, semuanya harus kembali menjadi milik rakyat,”* tegas Haidar Alwi

*Dari Bima untuk Indonesia.*

Dan di tanah yang sama tempat Sultan Salahuddin pernah berdiri, kini berdiri rakyat yang sadar bahwa kemerdekaan tidak diwariskan, ia dijaga, setiap hari, dengan kerja dan kejujuran.

Penganugerahan Sultan Muhammad Salahuddin sebagai Pahlawan Nasional bukan hanya kebanggaan bagi Bima dan NTB, tetapi juga peringatan bagi seluruh bangsa: bahwa perjuangan sejati lahir dari kesederhanaan dan pengabdian.

Dalam momentum Hari Pahlawan ini, keluarga besar Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute menyampaikan rasa hormat kepada Presiden Prabowo Subianto, rakyat NTB, dan seluruh anak bangsa yang setia menjaga nilai-nilai kedaulatan dan keadilan sosial.

*“Warisi semangat Sultan Salahuddin, bukan sekadar gelarnya. Karena pahlawan sejati hidup di hati rakyat, bukan di patung peringatan,”*

*“Selama masih ada rakyat yang bekerja dengan jujur, pemimpin yang berpihak kepada nurani, dan anak bangsa yang mencintai tanahnya, maka NTB tidak hanya punya tambang, tapi juga martabat,”* pungkas Haidar Alwi.

(muspn).

No More Posts Available.

No more pages to load.