Malang, paradigmanasional.id — Menghidupkan kembali nafas tradisi, merayakan sakralitas topeng Nusantara. Perayaan Kembul Topeng #3 segera hadir pada 26–31 Agustus 2025 di Padepokan Seni Mangun Dharmo, Tumpang, Malang.
Acara yang bertepatan dengan HUT ke-36 Padepokan Seni Mangun Dharmo ini akan menjadi ruang perjumpaan puluhan komunitas topeng Nusantara. Dengan mengusung tema reflektif “Dulu, Kini, Nanti”, acara ini diharapkan tidak sekadar menjadi tontonan seni, melainkan juga perenungan atas jejak panjang tradisi topeng Indonesia.
Salah satu penampilan yang ditunggu-tunggu adalah Topeng Dongkrek Madiun, sebuah kesenian ritual khas dari Caruban, Madiun, Jawa Timur. Dibawakan oleh Sanggar Condro Budoyo di bawah pimpinan Andri, Topeng Dongkrek akan menambah khazanah ragam topeng yang hadir dalam festival ini.
Jejak Sakral Topeng Dongkrek
Topeng Dongkrek lahir pada abad ke-19, di masa pemerintahan Bupati Raden Ronggo Prawirodirjo III. Saat itu, masyarakat Caruban dilanda pagebluk (wabah penyakit) yang diyakini karena gangguan roh-roh jahat. Sang bupati kemudian menginisiasi sebuah pertunjukan rakyat dengan kendang, keprak kayu, topeng, dan tarian yang penuh semangat.
Bunyi “dung” dari kendang dan “krek” dari keprak kayu kemudian menjadi ciri khas irama, sekaligus melahirkan nama Dongkrek. Pertunjukan ini dipercaya mampu mengusir gangguan gaib dan menjadi doa kolektif agar masyarakat terbebas dari musibah.
Kini, Topeng Dongkrek tidak lagi sekadar ritual, melainkan juga pertunjukan rakyat penuh filosofi. Ia telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, dengan pesan moral tentang pertarungan abadi antara kebaikan dan keburukan.
“Dalam berkesenian kita harus mampu menghibur sekaligus menyampaikan pesan kehidupan. Topeng Dongkrek adalah gambaran drama manusia: ada sifat baik, ada pula sifat jahat. Dari sana kita belajar kesabaran, ketenangan, dan kerja keras,” tutur Andri, pimpinan Sanggar Condro Budoyo.
Dinamika Pertunjukan: Dari Sakral ke Teatrikal
Topeng Dongkrek dimainkan oleh sekelompok penari dengan karakter topeng yang penuh makna:
• Topeng Buto (raksasa): simbol kekuatan negatif dan roh pengganggu.
• Topeng Putri: menggambarkan masyarakat yang terkena gangguan.
• Topeng Lelaki (Panji, ksatria, rakyat): representasi tokoh penyelamat.
Musik iringan terdiri dari kendang, gong, jidor, keprak kayu, hingga kenong. Hentakan keras irama menggema sebagai simbol pengusir mara bahaya. Gerakan tarinya energik, dipenuhi adegan dramatik, teatrikal, bahkan diselipi humor yang membuat pertunjukan tetap dekat dengan rakyat.
Topeng Dongkrek biasanya hadir dalam berbagai acara: mulai dari ritual adat tolak bala, bersih desa, upacara keagamaan, festival budaya, kirab, hajatan rakyat, hingga pertunjukan khusus di sanggar sebagai sarana edukasi dan pelestarian.
Kembul Topeng #3: Lebih dari Sekadar Pertunjukan
Perhelatan Kembul Topeng #3 bukan hanya ajang unjuk karya seni, melainkan sebuah perayaan bersama. Rangkaian acaranya meliputi:
• Sarasehan budaya bersama maestro topeng.
• Workshop seni untuk generasi muda.
• Pameran topeng dari berbagai daerah Nusantara.
• Lomba tari dan mewarnai topeng untuk anak-anak.
• Pertunjukan lintas sanggar dan kolaborasi lintas daerah.
• Nyekar dan umbul dungo untuk para sesepuh topeng.
Tahun ini, acara melibatkan berbagai institusi seni ternama seperti ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, ISBI Denpasar, STKW Surabaya, UNESA, Universitas Negeri Malang, IKJ, Universitas Negeri Jakarta, hingga puluhan SMKI dan komunitas topeng dari Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Dukungan dan Pesan Budaya
Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen Malang, hadir langsung memberikan dukungan kepada Andri di kediamannya di Caruban pada 19 Agustus 2025.
Dalam kesempatan itu ia menegaskan: “Topeng Dongkrek meski tidak bersumber dari epos Panji atau Purwa, justru memiliki nilai sakral tinggi. Ia adalah topeng ritual tapi tidak kaku dengan ritus ritus tertentu, topeng dongkrek hadir sebagai topeng pengharapan menepis mitos mistis topeng itu sendiri.”
Melalui sambungan telepon, Ki Demang juga mempertemukan Andri dengan Winarto Ekram, pimpinan Malang Dance Indonesia sekaligus penggagas acara bersama Dr. Tri Wahyiningtyas. Winarto menekankan bahwa acara ini lahir bukan hanya untuk hiburan semata.
“Topeng bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan. Kembul Topeng adalah ruang perjumpaan budaya, upaya menjaga napas tradisi agar tetap hidup di tengah arus modernitas.” ujar Winarto penggagas Kembul Topeng #3.
Menjaga Napas Tradisi
Kehadiran Topeng Dongkrek Madiun di Kembul Topeng #3 menandai pentingnya kolaborasi antar tradisi. Dari sakralitas Dongkrek Caruban hingga elegansi Topeng Malangan, acara ini menjadi momentum untuk merajut kembali identitas bangsa melalui kesenian topeng.
Dengan tema “Dulu, Kini, Nanti”, Kembul Topeng #3 adalah cermin perjalanan seni: menghormati jejak masa lalu, meneguhkan eksistensi hari ini, dan menyiapkan warisan budaya untuk generasi mendatang. (Red).






