Wapres Gibran Rakabuming Raka Jadi Perhatian KTT-G.20. KALIAN BISA, KARENA SESEORANG TELAH MEMBUKTIKANNYA.

oleh -658 Dilihat

Johannesburg, Afrika Selatan, paradigmanasionao.id Dalam hidup–kadang ada momen yang tak boleh lewat begitu saja–sebab cuma akan lewat sekali itu saja, lalu lenyap. Di KTT G20 Afrika Selatan, saat seorang pemuda Indonesia duduk di lingkaran para pemimpin dunia, nampak ada sesuatu yang bergerak lebih dalam dari sekadar diplomasi global: yaitu sebuah kesadaran dan pengakuan kolektif bahwa generasi baru Indonesia telah datang. Telah hadir.

Gibran, yang mewakili Presiden Prabowo, ternyata bukan hanya tampil sebagai “anak muda yang diberi kesempatan”, melainkan sebagai “seseorang yang layak berada di sana”. Tenang, percaya diri, namun tetap menyisakan ruang dalam dirinya untuk rendah hati–sebuah kombinasi langka yang membuat orang lain nyaman–ingin mendekat, menyapa, lalu berbicara tanpa sekat. Bahkan salah seorang delegasi dari Arab Saudi, tampak spontan menghampiri Gibran yang sedang duduk melingkar dalam sidang pleno bersama delegasi lainnya, berbicara akrab dan saling menepuk punggung. Itu tanda bahwa kepemimpinan–pada tingkat tertentu–bukan lagi soal usia atau gelar, tapi “magnet diri” yang terpancar dari sikap.

Di sisi lain, Gibran dengan tetap penuh adab–namun terlihat sangat nyaman dan percaya diri berinteraksi dengan para pemimpin besar dunia yang hadir di sana. Mulai dari Presiden Turki, PM Jepang, Presiden Korsel, dan banyak lainnya. Para tokoh tersebut juga dengan sangat nyaman berinteraksi dengan Gibran. Ketika berdialog dengan Presiden Korsel, Gibran berbicara dalam bahasa Inggris–yang lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Korea oleh staf Presiden Korsel kepada presidennya, dst.

Kita sering lupa bahwa kepemimpinan, yang pertama dan utama– bukanlah soal apa yang kita katakan–tetapi apa yang dirasakan orang lain tatkala berada di dekat kita. Dan nampaknya itu yang terjadi pada Gibran: kehadiran yang menenangkan, keberanian tanpa gaduh, tidak petentengan, dibingkai oleh kesopanan yang tidak dibuat-buat. Pidato serta dialog-dialognya sangat diperhatikan oleh forum maupun para kepala negara.

Ini bukan glorifikasi–ini adalah tanda, isyarat, bakal hadirnya momentum transformasi (kepemimpinan).

Bahwa anak-anak muda Indonesia bisa. Bahwa negeri ini tidak kekurangan talenta, hanya sering kekurangan ruang untuk memberi kepercayaan pada yang muda. Gibran baru satu contoh– yang lebih penting adalah pesan yang dibawanya pulang: bahwa panggung global bukanlah sesuatu yang terlalu tinggi buat kita, tapi kita jarang memperjuangkannya sebagai orang muda.

Para pemimpin baru akan lahir bukan dari mereka yang paling berteriak, gaduh, penuh intrik, agresif–tetapi dari yang paling siap. Dari yang berani duduk di meja besar tanpa merasa kecil, pun dari yang memahami bahwa masa depan bangsa ini sedang menunggu –bukan penonton.
Maka, jika ada generasi muda yang bertanya, “Apakah kami mampu?”–jawabannya jelas:

Kalian bisa! Karena seseorang telah membuktikannya. (muspn.

No More Posts Available.

No more pages to load.