Malang, paradigmanasional.id — Jumat, 31/10/2025. Wayang Topeng Malang masih hidup dan berdenyut kuat di Kecamatan Jabung, wilayah timur Kabupaten Malang yang dikenal dengan sebutan Brang Wetan. Di daerah ini, tiga sanggar utama terus menjaga tradisi topeng: Sanggar Mantraloka di Desa Kemantren yang dipimpin Muhammad Sugeng (Lyhong), Sanggar Darmo Langgeng di Desa Gunungjati pimpinan Darmaji, dan Sanggar Gunungsari Jabung di bawah Sri Hartatik, Kepala Desa Jabung sekaligus cucu Lurah Kansen, keturunan Mpu Tepeng Malang (Ki Tjodro Suwono) dari Polowijen.
Para penari muda Jabung datang dari berbagai latar sosial, bahkan ada yang dulu mantan preman atau pekerja serabutan. Kini mereka menemukan makna baru lewat Wayang Topeng sebagai wadah ekspresi, penyembuhan, dan kebanggaan. Wayang Topeng Jabung bukan sekadar seni, tapi juga terapi sosial bagi masyarakatnya.
Meski beberapa penari sepuh seperti Mbah Parjo, Mbah Kari, dan Mbah Misdi telah tiada, semangat gaya Gunungsari tetap dijaga. Gerak halus dan tegas khas Brang Wetan menjadi simbol harmoni dan keteguhan dalam seni topeng.
Epos Panji Hidup di Kalangan Muda
Tahun 2025 menjadi tahun penting bagi kebangkitan Wayang Topeng. Di Taman Krida Budaya Jawa Timur, enam seri pertunjukan epos Panji digelar sepanjang tahun: Panji Laras, Panji Mangu, Panji In Love, Lentera Panji, Smaratahta, dan Setyåkasih.
Sanggar Jabung kembali tampil dalam Setyåkasih pada Jumat, 31/10/2025, menjadi simbol kembalinya Jabung ke panggung utama. Seluruh pertunjukan dikurasi oleh Lilik Subari, M.Sn. dan Dhimas Respati, S.Sn., dengan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur.
Wayang Topeng kini hadir di tengah generasi muda dengan semangat baru. Menurut teori cultural resilience (Holling, 1973), kesenian rakyat seperti topeng mampu bertahan dengan cara beradaptasi. Generasi muda tidak hanya menari, tetapi juga membawa nilai-nilai keberanian, solidaritas, dan penghormatan kepada leluhur.
Melalui media sosial, Wayang Topeng memasuki dunia digital. Seperti dijelaskan Ki Demang, “kini algoritma menjadi ruang baru bagi kebudayaan, di mana tradisi tetap hidup di tengah teknologi.”
Pementasan Setyåkasih: Tradisi Bertemu Teknologi
Lakon Setyåkasih karya sutradara Bowo Supriatim dan koreografer Tulus Tri Sumanto serta Binti Ayu menghadirkan kisah cinta Panji Asmorobangun dan Dewi Wadal Werdi. Musik garapan M. Deva Akbar Risman memadukan gending topeng dengan irama elektronik, menciptakan nuansa futuristik.
Menurut Joko Susilo dari STKW Surabaya, “pertunjukan ini menunjukkan bahwa tradisi bisa berdialog dengan teknologi tanpa kehilangan ruhnya”.
Namun, dalam pementasan kali ini, Tari Gunungsari, ikon khas Jabung, tidak ditampilkan. Padahal, tarian tersebut biasanya menjadi penutup megah setiap gebyak. Absennya Gunungsari menjadi refleksi tentang perubahan zaman dan pentingnya melestarikan nilai-nilai kesetiaan dalam tradisi.
Pegiat topeng, Muhammad Masai, menilai sudah saatnya Wayang Topeng Jabung memasuki era Digital Heritage Theatre, di mana pertunjukan direkam secara digital agar bisa dinikmati generasi mendatang. Kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti Universitas Negeri Malang dan STKW Surabaya diharapkan melahirkan inovasi seperti AI-curated performance atau turisme virtual berbasis budaya.
Menurut Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen, Wayang Topeng Jabung bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan cerminan kesetiaan manusia terhadap akar budayanya.
“Dari Desa Kemantren hingga Gunungjati, dari panggung Krida Budaya hingga dunia digital, Topeng Brang Wetan adalah warisan hidup yang terus menumbuhkan kehidupan,” ujarnya.
Wayang Topeng Jabung mengingatkan kita semua bahwa kesetiaan pada nilai adalah bentuk paling indah dari modernitas. (Red)





