GIG Podcast Ajak Civitas Akademika Wujudkan Kampus Aman dan Bebas Perundungan

oleh -20 Dilihat
oleh

Malang, paradigmanasional Kesadaran akan pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan bebas dari pelecehan maupun perundungan terus menjadi perhatian berbagai pihak. Hal tersebut menjadi fokus utama dalam kegiatan Gedong Ijen Guest (GIG) Podcast yang diselenggarakan di Cafe Gedong Ijen dengan mengangkat tema “Stop Pelecehan dan Perundungan: Saatnya Peduli dan Berani Bersuara agar Ruang Aman Bukan Cuma Jadi Harapan.”

Kegiatan yang dipandu oleh Zenitha Putri ini menghadirkan narasumber Royani Liza Hayati selaku Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), Wiwin Lukitohadi selaku Koordinator DWP Sahabat Kampus Universitas Brawijaya, serta Dewi selaku Ketua Yayasan Arunika. Podcast ini dihadiri oleh anggota dan pengurus DWP FPIK UB serta melibatkan Priscilla Aurelia, Duta Sahabat Kampus Universitas Brawijaya.

Dalam diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif tersebut, para narasumber menegaskan bahwa pencegahan pelecehan dan perundungan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kepedulian, keberanian untuk bersuara, serta kolaborasi seluruh elemen kampus agar tercipta lingkungan yang sehat dan saling menghargai.

Ketua DWP FPIK UB, Royani Liza Hayati, menyampaikan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat untuk menuntut ilmu dan meraih prestasi akademik, tetapi juga harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh mahasiswa untuk bertumbuh dan berkembang.

Menurutnya, setiap mahasiswa berhak mendapatkan lingkungan belajar yang mendukung kesehatan mental, rasa aman, serta kesempatan untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.

Sementara itu, Wiwin Lukitohadi menjelaskan berbagai program yang dikembangkan untuk mendukung kesejahteraan mahasiswa, salah satunya melalui kolaborasi antara Yayasan Arunika dan Sahabat Kampus Universitas Brawijaya dalam program Teman Bercerita.

Program Teman Bercerita hadir sebagai ruang aman bagi mahasiswa yang membutuhkan tempat untuk berbagi pengalaman, menyampaikan keresahan, maupun mencari dukungan ketika menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan kampus maupun kehidupan pribadi. Program ini dikembangkan dengan pendekatan yang mengedepankan empati, kerahasiaan, dan pendampingan yang humanis.

Dalam pelaksanaannya, Teman Bercerita didukung oleh keberadaan Konselor Muda, yaitu mahasiswa yang telah mendapatkan pembekalan untuk menjadi pendamping sebaya, serta Konselor Bunda yang berasal dari unsur Dharma Wanita Persatuan (DWP). Kehadiran kedua unsur tersebut diharapkan mampu memberikan dukungan yang lebih luas bagi mahasiswa sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang dihadapi.

“Sering kali seseorang hanya membutuhkan tempat yang aman untuk bercerita dan didengarkan. Karena itu kami ingin memastikan bahwa mahasiswa mengetahui bahwa mereka tidak sendirian. Ada Teman Bercerita, ada Konselor Muda, dan ada Konselor Bunda yang siap mendampingi,” jelas Wiwin.

Pada kesempatan yang sama, Dewi selaku Ketua Yayasan Arunika menegaskan bahwa kesehatan mental mahasiswa merupakan isu yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Menurutnya, tekanan akademik, pergaulan sosial, maupun persoalan pribadi sering kali membuat mahasiswa merasa terisolasi dan enggan mencari bantuan.

Melalui program Teman Bercerita, Yayasan Arunika bersama Sahabat Kampus berupaya menghadirkan ruang yang lebih ramah dan mudah diakses oleh mahasiswa yang membutuhkan dukungan emosional maupun psikososial.

“Kita ingin membangun budaya saling peduli. Tidak semua orang membutuhkan solusi instan, tetapi hampir semua orang membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan,” ungkap Dewi.

Keterlibatan Priscilla Aurelia sebagai Duta Sahabat Kampus Universitas Brawijaya turut memperkuat pesan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan bebas dari kekerasan.

Melalui berbagai kegiatan edukasi yang dilakukan Sahabat Kampus, para duta diharapkan mampu menjadi jembatan informasi sekaligus penggerak budaya saling menghargai, saling mendukung, dan berani melaporkan apabila menemukan tindakan yang mengarah pada pelecehan maupun perundungan.

Dalam kesempatan tersebut, Priscilla juga mengajak mahasiswa untuk tidak ragu mencari bantuan ketika menghadapi masalah yang dirasa berat untuk ditanggung sendiri.

“Jangan merasa sendiri. Selalu ada orang-orang yang peduli dan siap mendengarkan. Berani bercerita adalah langkah awal untuk menemukan jalan keluar,” ujarnya.

Selain membahas upaya pencegahan pelecehan dan perundungan, podcast juga mengangkat pentingnya menjaga kesehatan mental serta membangun pola pikir yang positif di tengah berbagai tantangan kehidupan kampus. Para narasumber mengajak mahasiswa untuk tetap menjaga kebahagiaan, memperkuat hubungan sosial yang sehat, serta tidak memendam masalah seorang diri.

Melalui kegiatan ini, DWP FPIK UB, Yayasan Arunika, dan Sahabat Kampus Universitas Brawijaya berharap semakin banyak mahasiswa yang memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Kegiatan GIG Podcast ini menjadi pengingat bahwa ruang aman di lingkungan kampus dapat terwujud ketika seluruh pihak memiliki keberanian untuk peduli, mendengarkan, dan saling menguatkan.

“Tetaplah bahagia, berpikir positif, dan jangan pernah merasa sendirian. Selalu ada teman yang siap mendengar, konselor yang siap mendampingi, dan lingkungan yang peduli kepada Anda.” Pesan tersebut menjadi penutup kegiatan sekaligus ajakan bagi seluruh civitas akademika untuk bersama-sama mewujudkan kampus yang aman, sehat, dan penuh empati. (Red)

Narasumber : Zenitha Putri

No More Posts Available.

No more pages to load.