Kembul Topeng #3: Joget Sepuh, Jejak Maestro, dan Nyala Tradisi, Reuni Para Maestro Topeng Malang, Lintas Generasi Menjaga Warisan Budaya

oleh -657 Dilihat
oleh

Malang, paradigmanasional.id 30 Agustus 2025. Padepokan Seni Mangun Dharma kembali menjadi saksi peristiwa budaya yang langka. Sabtu malam (30/8), panggung Kembul Topeng #3 diramaikan oleh Joget Sepuh, sebuah ajang reuni para maestro tari topeng dari berbagai daerah.

Malam penuh khidmat itu menghadirkan suasana sakral sekaligus hangat, ketika para maestro yang rata-rata bersahabat dekat dengan Ki Soleh Adi Pramana tampil bersama, merajut jejak sejarah dalam satu panggung.

Acara dibuka langsung oleh Ki Soleh Adi Pramana, maestro dalang wayang topeng Malang sekaligus pimpinan Padepokan Mangun Dharma. Dalam sambutannya ia menegaskan pentingnya momen ini:

“Peristiwa langka ini mari kita khidmatkan pada kesenian topeng agar tidak punah, sekaligus menyampaikan pesan ke generasi muda perlunya meruwat dan merawat topeng sebagai warisan hidup.” Ungkap Sang Maestro Dalang Wayang Topeng Malang.

Jejak Maestro: Dari Malang, Surakarta hingga Losari
Malam itu, penampilan demi penampilan menghadirkan mozaik seni topeng yang memukau:
• Madam (Topeng Indramayu) membuka dengan tarian topeng samba dan kelana.
• Tri Broto Wibisono (Surabaya–Malang) membawakan topeng doa pembuka.
• Rinto Syamsuryono (Malang) tampil dengan topeng eling-eling lengkap bersama pengidung.
• Tonny J Bachri (STKW Surabaya) mempersembahkan topeng Gunungsari gaya keraton Surakarta.
• Buari APC dengan topeng mistik yang penuh simbolisme.
• Mini Kartini (Topeng Losari) tampil prima membawakan tujuh wanda topeng Losari.
• Soeryo Wido Minarto menutup dengan Joget Bareng Maestro, menghadirkan harmoni kebersamaan.

Bukan sekadar nostalgia, rangkaian ini menjadi jembatan spiritual dan kultural, mengisyaratkan bahwa seni topeng bukan hanya pertunjukan, melainkan pesan hidup yang diwariskan lintas generasi.

Kehadiran Romo Sindhunata, penulis dan budayawan, semakin menguatkan makna malam itu:
“Ini bukan sekadar romantika, tetapi jembatan lintas generasi yang menyampaikan estafeta seni topeng agar tidak punah tergerus zaman.”

Puncak Hari Minggu: Topeng Jadi Milik Nusantara
Rangkaian Kembul Topeng #3 berlanjut ke hari Minggu (31/8) dengan skala lebih besar. Puncak acara ini melibatkan institusi pendidikan seni ternama seperti ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, ISBI Bandung, STKW Surabaya, UNESA, Universitas Negeri Malang, Institut Kesenian Jakarta, hingga Universitas Negeri Jakarta.

Tak hanya kampus, komunitas dan sanggar rakyat dari Jakarta, Cirebon, Indramayu, Majalengka, Jogja, Surakarta, Klaten, Jombang, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Denpasar, hingga Pacitan juga turut serta. Fakta ini menegaskan bahwa topeng bukan sekadar tradisi lokal, melainkan bahasa budaya lintas wilayah, lintas generasi, dan lintas kelas sosial.

Budayawan Surabaya, Dr. Arif Rofiq, dalam sambutannya menekankan urgensi dukungan negara:
“Pemerintah seharusnya hadir menyaksikan pagelaran sanggar-sanggar topeng sebagai garda depan pelestari warisan budaya. Negara wajib mengambil peran dengan pembinaan dan dukungan dana abadi kebudayaan. Jika tidak, warisan budaya tak benda Indonesia berupa seni topeng perlahan akan musnah.”

Merawat Api, Menjaga Warisan
Kembul Topeng #3 bukan sekadar festival, tetapi ruang perjumpaan antar generasi yang menyatukan maestro, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam semangat menjaga nyala tradisi. Dari Joget Sepuh hingga Puncak Nusantara, pesan yang disampaikan jelas: Topeng adalah identitas, warisan, sekaligus jembatan menuju masa depan kebudayaan bangsa.

Refleksi Filosofis
Di balik hiruk-pikuk zaman modern, seni topeng hadir sebagai cermin kehidupan: wajah-wajah kayu itu menyimpan pesan tentang kesadaran, pengendalian diri, kebaikan, sekaligus peringatan akan kelalaian. Dari topeng samba yang penuh semangat, hingga eling-eling yang mengajak manusia kembali sadar pada jati diri, semuanya adalah narasi simbolis perjalanan hidup manusia.

Kembul Topeng #3 mengajarkan bahwa melestarikan seni tradisi bukan sekadar menjaga benda atau pertunjukan, melainkan menjaga roh kebudayaan: roh yang memberi bangsa ini akar, sekaligus sayap untuk terbang menghadapi masa depan. (Red/sumber berita Ki Demang KBP)

No More Posts Available.

No more pages to load.