Kembul Topeng #3: Menyulam Masa Depan Seni Topeng dari Anak PAUD hingga Akademisi Seni

oleh -508 Dilihat
oleh

Malang, paradigmanasional.id 28 Agustus 2025. Gelaran Kembul Topeng #3 di Padepokan Seni Mangun Dharma, Kamis (28/8), menghadirkan suasana meriah sejak pagi. Anak-anak TK dan SD setempat tampak antusias mengikuti lomba mewarnai topeng, menandai betapa seni topeng mampu menjadi media ekspresi lintas usia.

Memasuki siang hingga sore hari, acara berlanjut dengan sarasehan topeng yang dipandu oleh Dr. Tri Wahyuningtyas, dosen PSTM Universitas Negeri Malang (UM). Ia menegaskan bahwa tema “Dunia Kini dan Esok” sangat relevan dengan perkembangan seni topeng yang mulai bangkit kembali.

“Banyak seni topeng di berbagai daerah kini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda Indonesia. Momentum ini harus terus digelorakan,” ujarnya.

Terobosan Baru: Topeng untuk Anak Usia Dini

Salah satu pemantik sarasehan, Retno Tri Wulandari (dosen PGSD UM dan kandidat doktor Universitas Negeri Semarang), memaparkan riset disertasinya tentang pembelajaran topeng bagi anak PAUD. Menurutnya, sejumlah ragam gerak topeng seperti singget, nglabas, dan pentangan bisa disederhanakan tanpa menghilangkan karakter dasar.

Retno bahkan memperagakan gerakan hasil modifikasi yang telah ia ujicobakan pada anak PAUD dalam delapan kali pertemuan. Hasilnya, anak-anak mampu menari dengan gembira, bahkan membawakan kisah Panji Laras dengan koreografi karya Tri Handoyo dari Padepokan Topeng Asmorobangun.

Pandangan Akademisi dan Pelaku Seni

Sejumlah tokoh turut memperkaya diskusi. Soeyo Wido Minarto, pensiunan dosen PSTM UM, menilai pengenalan topeng sebaiknya dimulai sejak dini melalui cerita dan tokoh.

“Tidak harus anak PAUD memakai topeng sungguhan. Make-up dengan karakter sudah cukup untuk menumbuhkan imajinasi,” ungkap Wido, yang dikenal dengan riset tentang mistifikasi Topeng Malang.

Sementara itu, Gandung Masigit dari Sanggar Topeng Sailendra Kranggan Ngajum Malang mengapresiasi ide Retno. Menurutnya, strategi ini dapat menjadi solusi atas tantangan regenerasi penari topeng.

“Selama ini, topeng identik dengan remaja dan dewasa. Tapi di Kranggan justru banyak diminati generasi tua. Gagasan ini bisa membuka ruang baru,” katanya.
Dari perspektif kreatif, Ki Demang dari Kampung Budaya Polowijen menekankan pentingnya inovasi.

“Perlu warna baru yang lebih menarik untuk anak-anak, baik dari segi topeng, kostum, musik, maupun cerita. Namun karakter tokoh dan nilai filosofis tetap harus dijaga,” tegasnya.

Peserta Sarasehan dan Agenda Lanjutan

Sarasehan ini dibuka langsung oleh Ki Soleh Adi Pramana, pimpinan Padepokan Seni Mangun Dharma, dan dihadiri perwakilan SMP-SMA Tumpang, mahasiswa UM, penari senior Malang Dance, serta puluhan sanggar topeng se-Malang Raya.

Rangkaian Kembul Topeng #3 masih akan berlangsung hingga 31 Agustus 2025, dengan agenda meliputi: Workshop tari topeng, Pertunjukan dan joget topeng sepuh, Parade sanggar topeng, Pameran topeng.

Puncak acara pada Minggu (31/8) akan melibatkan institusi pendidikan seni terkemuka seperti ISI Surakarta, ISI Denpasar, ISI Yogyakarta, ISBI Bandung, STKW Surabaya, UNESA, Universitas Negeri Malang, Institut Kesenian Jakarta, hingga Universitas Negeri Jakarta.

Tak ketinggalan, berbagai komunitas dan sanggar dari Jakarta, Cirebon, Indramayu, Majalengka, Jogja, Surakarta, Klaten, Jombang, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Denpasar, hingga Pacitan turut serta, menandai bahwa topeng adalah warisan budaya yang hidup di akar rumput sekaligus berkembang di ranah akademik.

Topeng Malang sebagai Pusat Kreasi Nusantara

Mulai Jumat hingga Minggu, panggung Padepokan Mangun Dharma akan diramaikan oleh deretan sanggar topeng asal Malang Raya, di antaranya: Kampung Budaya Polowijen, Sanggar Seni Denandar Batu, Topeng Bayu Candra Kirana Senggreng, Mantraloka Jabung, Madyo Laras Jatiguwi, Galuh Candra Kirana Jambuwer, Madyo Utomo Pijiombo, Sailendra Kranggan, Setyotomo Glagah Dowo, hingga Asmorobangun Pakisaji.

Hadirnya berbagai sanggar, komunitas, dan lembaga pendidikan ini menegaskan bahwa seni topeng bukan sekadar tradisi, tetapi juga media kreasi dan edukasi lintas generasi.

Kembul Topeng #3 tidak hanya menghidupkan panggung seni tradisi, tetapi juga membuka wacana baru: bagaimana topeng bisa diwariskan kepada anak-anak sejak usia dini, tanpa kehilangan nilai filosofis dan keindahan geraknya. (Red)

No More Posts Available.

No more pages to load.