Malang, paradigmanasional.id — Kampung Budaya Polowijen (KBP), kembali menggelar Festival Kampung Budaya Polowijen #9 pada Minggu, 15 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pelestarian tradisi, penguatan identitas budaya lokal, serta pengembangan potensi masyarakat berbasis kearifan lokal.
KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari) merupakan program pemanfaatan pekarangan rumah secara berkelanjutan untuk budidaya tanaman pangan, sayur, buah, serta tanaman obat keluarga (toga). Konsep ini menekankan kemandirian pangan berbasis rumah tangga, optimalisasi lahan sempit perkotaan, serta penguatan gizi keluarga melalui hasil tanam mandiri. Bagi wilayah perkotaan seperti Polowijen yang memiliki keterbatasan ruang, inovasi pemanfaatan lahan menjadi solusi strategis dan berkelanjutan.
Kegiatan penanaman ini dihadiri oleh Wakil Ketua TP PKK Kelurahan Polowijen, Ketua PKK RW 02, serta Ketua PKK RT 03 RW 02. Keterlibatan aktif unsur PKK menunjukkan sinergi kelembagaan dalam membangun kesadaran lingkungan dan ketahanan keluarga berbasis partisipasi warga.
Amalia Safitri Ketua PKK RW 03 Kelurahan Polowijen merasa senang bahwa mahasiswa KKN Tematik UMM di Kampung Budaya Polowijen berkontribusi terhadap lingkungan baik memalui Posyandu dan penyediaan lahan KRPL RW 02 Kelurahan Polowijen
“Tanaman ini bukan sekedar penanda bahwa kelompok kami siap mengkuti lomba kampung bersinar Kota Malang 2026 tapi jauh dari itu kita akan kembali membudayakan tanama pangan dan toga di ilingkungan kita agar lebih bermanfaat pada semuanya” kedepan kita juga akan kembangkan green house yang lebih luas dilingkungan ini juga Ungkap Fitri
Sejak hadirnya mahasiswa KKN Tematik UMM Berdampak 2026 Kelompok 14 dari Universitas Muhammadiyah Malang di Kampung Budaya Polowijen, kolaborasi dengan PKK semakin diperkuat. Mahasiswa turut mendampingi pemanfaatan lahan pekarangan untuk budidaya tanaman pangan dan tanaman obat-obatan, sekaligus memberikan edukasi pengelolaan sederhana namun produktif.
Di tengah keterbatasan ruang perkotaan, langkah ini menjadi model pemberdayaan masyarakat yang adaptif, produktif, dan ramah lingkungan. Program KRPL tidak hanya berdampak pada aspek pangan dan kesehatan keluarga, tetapi juga memperkuat indikator kebersihan, kerapian, inovasi, serta partisipasi masyarakat — unsur penting dalam penilaian Lomba Kelurahan Bersinar.
“Kami berharap KRPL ini dapat di rawat oleh ibu ibu PKK sehingga kalo tahun ini diikutkan lomba Kelurahan bersinar kami akan ikut senang, nanti kami juga ikut memanta dan membantu merawat secara berkelanjutan”. Tambah Putra Bayu Wakil Ketua kelompok 14 mahasiswa Hukum UMM.
Acara dilanjutkan dengan Workshop Busana Khas Malang yang meliputi pelatihan membatik, pengenalan ragam kebaya, praktik memakai jarik, bersanggul, serta penggunaan Udeng Malang. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap busana tradisi sebagai identitas budaya daerah.
Siang Hari, digelar Pentas Seni dan Budaya yang menampilkan pentas tari, cerita rakyat oleh anak-anak Polowijen, serta tembang dolanan sebagai upaya regenerasi seni tradisi. Yang isinya tari topeng tari tradisional dan tari kreasi dari KBP, Sanggar Jejeg Wira dan Miben Voice
Pada sore hari berlangsung prosesi Megengan, meliputi mocopatan, launching KBP Digital, penandatanganan MoU antara KBP dan Universitas Muhammadiyah Malang, serta wilujengan Megengan sebagai ungkapan syukur dan doa bersama menyambut bulan suci.
Festival ditutup dengan prosesi Nyadran dan arak-arakan topeng Malang, yang merefleksikan penghormatan kepada leluhur serta penguatan nilai spiritual dan kebersamaan warga.
Tak ketingggalan juga dalam waktu bersamaan ada kegiatan pentas seni budaya dari kelompok bantengan Bantala Winoro Mukti binaan RW 02 Kelurahan Polowijen serta bazar makanan yang turut memeriahkan acara di Polowijen sebagai salah satu pusat seni budaya.
Festival Kampung Budaya Polowijen #9 diharapkan menjadi momentum penguatan ekosistem budaya sekaligus mendorong transformasi kampung budaya berbasis digital tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Sumber berita: Isa Wahyudi/KBP) – Red.






