Megengan di Kampung Budaya Polowijen, Tradisi Lestari, Generasi Muda Beraksi

oleh -683 Dilihat
oleh

Malang, paradigmanasional.id Suasana sakral sekaligus semarak menyelimuti Kampung Budaya Polowijen, Malang pada Minggu, 15 Februari 2026. Tradisi Megengan yang digelar dalam rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9 menjadi momentum istimewa kolaborasi antara masyarakat, tokoh budaya, dan mahasiswa KKN Tematik Kelompok 14 Universitas Muhammadiyah Malang.

Megengan tahun ini bukan sekadar seremoni menyambut bulan Ramadan, melainkan ruang pertemuan nilai spiritual, budaya, dan gerakan generasi muda dalam menjaga warisan leluhur. Ubo rampe, cok bakal dan sesajen lainnya di siapkan serta tiga jenis nasi tumpeng dan tumpeng apem dan pisang menjadi sajian khas tradisi di Kampung Budaya Polowijen.

Rangkaian acara diawali dengan Tari Beskalan sebagai simbol penyambutan dan penghormatan kepada para tamu. Gerakannya yang tegas namun anggun menghadirkan karakter khas Malangan, menegaskan bahwa setiap prosesi adat selalu diawali dengan rasa hormat dan tata krama budaya. Tari Beskalan Putri Malang memberikan tanda bahwa acara Megengan segera di gelar

Suasana kemudian menjadi khidmat saat lantunan mocopatan oleh Pak Suryono menggema di tengah kampung. Tembang Jawa yang sarat filosofi itu menjadi jembatan menuju sesi seremonial dan sambutan dari berbagai pihak. Hadir dalam kesempatan tersebut Prof. Dr. Ir. Sutawi, MP, Kepala LPPM UMM; Dr. Daroe Wahyutiningsih, Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM sekaligus Dosen Pendamping Lapangan; Rendra Fatrisna Kurniawan, Analis Kebudayaan Dikbud Kota Malang; serta I Ketut Widi Eka Wirawan, Camat Blimbing Kota Malang.

Momentum istimewa Megengan 2026 disisipi dengan peluncuran KBP Digital yang isinya E-Book Kampung Budaya Polowijen yang dilakukan secara simbolis di hadapan para tamu undangan. E-book ini memuat sejarah, potensi, dan aktivitas budaya Kampung Polowijen sebagai bentuk dokumentasi digital. Langkah ini menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan penguatan literasi dan digitalisasi budaya.

Prof. Sutawi menyampaikan bahwa, “kontribusi mahasiswa dalam menyusun dokumentasi budaya merupakan bagian penting dari pengabdian akademik. Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana kampus hadir di tengah masyarakat untuk memperkuat identitas lokal melalui pendekatan ilmiah dan teknologi.”. Semoga KBP Digital yang di lounching ditengah tengah acara megengan dan sykuran KBP menjadi berkah budaya kita semua.

Memasuki inti prosesi, doa bersama dipimpin langsung oleh Ki Demang Penggagas Kampung Budaya Polowijen dengan tradisi ujob doa cara jawa. Isi doa sebagai ungkapan syukur dan permohonan keberkahan menjelang Ramadan sekaligus tasyakyran KBP yang ke 9. Pemotongan tumpeng oleh para tamu undangan menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong, dilanjutkan makan bersama yang mempererat keakraban lintas generasi dan komunitas.

Camat Blimbing, I Ketut Widi Eka Wirawan, mengapresiasi konsistensi pelestarian tradisi di Polowijen. Ia menegaskan bahwa momentum sakral yang sarat makna ini harus terus dijaga karena adat istiadat sesungguhnya menjadi perekat kehidupan bermasyarakat. Ia berharap Megengan dan Nyadran di Kampung Budaya Polowijen dapat menjadi contoh bagi komunitas lain di Kota Malang.

Rendra Fatrisna Kurniawan juga membacakan sambutan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang yang menyampaikan apresiasi atas konsistensi Kampung Budaya Polowijen dalam menjaga tradisi di lingkungan cagar budaya. Upaya tersebut dinilai patut menjadi teladan bagi masyarakat Kota Malang.

Sebagai penutup, digelar Nyadran dan arak-arakan Topeng Malang menuju makam leluhur empu topeng Malang, Mbah Reni. Kirab ini menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan ikatan nilai yang dijaga lintas generasi sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu.

Sebelum prosesi Megengan, sejak pagi hingga sore telah dilaksanakan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari Nandur Karang Kitri (penanaman KRPL dan toga), Workshop Busana Khas Malang, hingga pementasan seni budaya yang menampilkan tari tradisional Malang, tari topeng, tari kreasi, pembacaan cerita rakyat, dan tembang dolanan.

Megengan sebagai rangkaian dari festival Kampung Budaya Poloiwijen #9 ini juga di hadiri dari Perwakilan komunitas lain yang hadir antar lain Pokdarwis Se Kota Malang, Perempuan Bersanggul Nusantara, Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kab. Malang, Perempuan Kebaya Konde Malangan, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Komunitas Budaya Jowo Line Dance, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Malang, Duta Budaya Kota Malang, Miben Voice Kota Malang

Megengan 2026 di Kampung Budaya Polowijen menghadirkan pemaknaan mendalam: bahwa tradisi bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan bersama. Di tangan generasi muda yang berkolaborasi dengan masyarakat, warisan budaya tidak berhenti sebagai nostalgia, melainkan bergerak sebagai energi sosial yang memperkuat identitas, solidaritas, dan keberlanjutan budaya Malangan di tengah arus zaman.

Sumber berita: KBP/Isa Wahyudi – Red

No More Posts Available.

No more pages to load.