Malang, paradigmanasional.id — Suasana Minggu, 15 Februari 2026, di Kampung Budaya Polowijen, Malang, tampak semarak dan penuh antusiasme. Festival Budaya Kampung Budaya Polowijen #9 yang di selenggarakan mahasiswa KKN Tematik UMM 2026 Kelopok 14 menghadirkan pementasan tari tradisional yang melibatkan anak-anak didik tari KBP (Kampung Budaya Polowijen) serta sejumlah sanggar seni. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar pelestarian seni budaya sekaligus ruang ekspresi bagi generasi muda dan para pegiat seni lokal untuk meneguhkan identitas budaya Malangan.
Acara pementasan dipandu oleh dua Master of Ceremony, Aura Tsania Andira Putri, mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM, serta RA. Danesjvara selaku Manajer Kampung Budaya Polowijen Mahasiswa PWK UB. Keduanya membacakan sinopsis setiap tarian secara runtut sehingga pesan, filosofi, dan makna yang terkandung dalam setiap gerak dapat dipahami dengan baik oleh penonton dan pengunjung festival. Narasi yang disampaikan tidak hanya menjadi pengantar pertunjukan, tetapi juga jembatan edukasi budaya bagi masyarakat.
Pementasan dibuka dengan Tari Beskalan Putri Malang yang dibawakan oleh Raysya. Tarian ini menampilkan gerak enerjik khas tari penyambutan dari Malang. Kata “Beskalan” berasal dari “bakalan” atau “bit-kal” (cikal bakal/persiapan), yang bermakna tarian ini menjadi simbol penyambutan tamu kehormatan yang berkunjung ke Kota Malang. Gerakannya yang tegas namun luwes menjadi representasi keramahan sekaligus kewibawaan budaya Malangan.
Selanjutnya, Tari Gambyong “Mari Kangen” dari Jawa Tengah dipentaskan dengan anggun oleh ibu ibu dari Perempuan Bersanggul Nusantara Ibu Sanny, Ninis, Dasimah, dan Mbak Jessica. Tarian ini menghadirkan nuansa lembut dan elegan di hadapan penonton. Sebagai tarian pembuka, Gambyong mengandung makna ajakan untuk bergembira dan bersuka cita dalam momentum pertemuan atau perayaan, mempererat rasa kebersamaan di antara hadirin.
Pertunjukan berlanjut dengan Tari Patih Kembar yang dibawakan oleh Igel dan Aliya. Dalam tradisi tari topeng, Tari Patih umumnya tampil di awal pagelaran. Tarian ini kerap disebut Tari Bangtih (abang/merah dan putih). Penciptanya adalah Mbah Seno Senggreng, putra dari Empu Topeng Malang, Mbah Reni. Tarian ini melambangkan kesigapan, loyalitas, dan kesiapan seorang patih dalam mengemban tugas negara.
Penampilan berikutnya adalah Tari Sekar Sari oleh Keysya. Tarian tunggal ini menggambarkan kelembutan, kecantikan, dan karakter baik hati seorang putri, yang sering merepresentasikan tokoh Dewi Sekartaji. Setiap gerak yang halus dan terukur mencerminkan nilai kesantunan serta keanggunan perempuan dalam tradisi Jawa.
Semarak kembali terasa melalui Tari Grebeg Sabrang yang dibawakan oleh Izza, Rachel, Shafa, Nala, dan Cessa. Tarian ini menggambarkan barisan prajurit Sabrang (seberang) yang gagah perkasa, berani, dan agresif saat berangkat menuju medan perang mengikuti Raja Klana Sewandana. Energi kuat yang terpancar dari gerakan mereka menegaskan semangat kepahlawanan dan keberanian.
Sementara itu, Tari Grebeg Jowo yang dibawakan oleh Senja, Naflah, dan Ozay menggambarkan prajurit yang bersiap menunaikan titah raja. Biasanya digambarkan bergerak dari Paseban menuju alun-alun, tarian ini merepresentasikan keberanian, kesetiaan, serta keteguhan dalam mempertahankan kehormatan dan kedaulatan.
Tak ketinggalan, Tari Bapang Joyosentiko dimainkan oleh Shafa, Cessa, Nala, Rachel, dan Igel. Tarian ini menghadirkan karakter ksatria dengan sifat percaya diri, berani, namun juga pemarah dan sombong, yang digambarkan melalui topeng berhidung panjang. Unsur jenaka dan provokatif dalam karakter Bapang memperkaya dinamika pertunjukan.
Pementasan Tari Topeng Malang ditutup dengan Tari Topeng Ragil Kuning yang dibawakan oleh Maria, Nava, dan Finna. Ragil Kuning melambangkan sosok adik Raden Panji yang aktif, pemberani, setia, dan penuh pengabdian. Warna kuning pada topeng melambangkan kesenangan, kebaikan, dan sumber kemakmuran, sementara gerakannya yang lincah dan luwes mencerminkan pribadi yang periang, lembut, namun tetap tegas.
Gizela Putriningtyas, guru tari Kampung Budaya Polowijen, mengaku bangga dapat menampilkan murid-muridnya dalam festival ini.
“Persiapannya cukup matang karena semua tari topeng dikuasai oleh para cantrik KBP. Tantangannya justru pada keinginan mereka untuk menari berbagai peran, sehingga mereka belajar untuk saling berbagi dan memahami peran masing-masing,” ungkapnya.
Selanjutnya, Tari Dolan Jaran dimainkan oleh Ardi dengan gerak lincah dan ekspresif yang menghidupkan suasana. Salah satu penampilan yang juga mencuri perhatian adalah Tari Layah yang dibawakan oleh Maudy, Elmeyra, dan Lintang, yang sebelumnya pernah ditampilkan dalam ajang FLS2N.
Selain pertunjukan tari, festival ini turut dimeriahkan dengan penampilan cerita pendek oleh Fitri Intan, siswi SDN 2 Polowijen, pemenang lomba cerita rakyat Polowijen. Penampilan ini memperkuat nilai literasi budaya sekaligus memperkenalkan kembali kisah-kisah lokal kepada generasi muda.
Kehadiran komunitas vokal Miben Voice semakin menyemarakkan suasana dengan lantunan lagu-lagu dolanan seperti “Prau Layar”, “Cublak-Cublak Suweng”, “Gundhul Pacul”, “Padhang Bulan”, “Menthok-Menthok”, “Sluku-Sluku Bathok”, dan “Jaranan”. Lagu-lagu tersebut mengajak pengunjung untuk ikut bernyanyi dan menari, bahkan sejumlah ibu-ibu turut naik ke panggung sebagai penari latar, menciptakan suasana hangat dan penuh kegembiraan.
Pementasan dari Sanggar Jejeg Wira juga menjadi daya tarik tersendiri. Sanggar ini menampilkan empat repertoar: Tari Wiratani, Tari Remo, Tari Prajurit Ksatria, dan Tari Nyala Nyawa, yang menggambarkan kekuatan, semangat, serta nilai-nilai kepahlawanan. Meski tergolong baru, Sanggar Jejeg Wira telah mengikuti berbagai event besar, termasuk pembukaan Porprov Jawa Timur 2025 di Stadion Malang.
Alfreta Isnanisa selaku penanggung jawab merasa lega dapat mengawal 15 penampilan selama tiga jam pementasan.
“Ini pengalaman baru mengelola pementasan dengan memastikan para penari tampil maksimal, mulai dari kostum, rias, hingga musik yang disiapkan. Ini bukan sekadar pertunjukan biasa, karena pentas tari, tembang dolanan, dan cerita rakyat semuanya berkaitan dengan Festival Kampung Budaya Polowijen yang sarat pesan dan makna,” ujarnya.
Sebelum pertunjukan seni budaya, Festival KBP #9 diawali dengan Nandur Karang Kitri dan dilanjutkan workshop busana khas Malang. Setelah pementasan seni budaya, rangkaian kegiatan berlanjut dengan acara sakral Megengan, arak-arakan Topeng Malang, serta nyadran ke makam Empu Topeng Malang, Mbah Reni.
Melalui kegiatan ini, Kampung Budaya Polowijen kembali menegaskan perannya sebagai ruang pelestarian budaya yang hidup—tempat bertemunya generasi muda, seniman, dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga, merawat, dan mewariskan seni tradisi agar tetap tumbuh dan bermakna di tengah perkembangan zaman.
Sumber berita: KBP/Isa Wahyudi – Red





