Malang, paradigmanasional.id — Ada yang khas dan beda dari gelaran wayang topeng kali ini. Selain epos panji, epos ramayana, serta cerita cerita rakyat yang tak kalah menyedot perhatian pengunjung adalah tampilnya wayang menak dengan lakon Amir Hamzah dadi Ratu. Gebyak Wayang Topeng Malang yang digelar pada 8–9 November 2025 di Bon Pring Sanankerto Turen Malang.
Pertunjukan ini menjadi bagian penting dalam Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Malang yang bertepatan dengan pelaksanaan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025, di mana Malang Raya — Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu — menjadi tuan rumah.
Hari pertama menampilkan lima kelompok dengan kekayaan kisah Panji antara lain Sanggar Madyo Utomo dari Pijiombo, Wonosari pimpinan Riyoko dengan lakon “Sekartaji Boyong”; dilanjutkan dengan Wayang Topeng Dharmo Langgeng dari Gunungjati, Jabung pimpinan Darmaji dengan lakon “Panji Wisuda”; Wayang Topeng Sailendra dari Kranggan, Ngajum pimpinan Dasiyo membawakan “Sinta Murca”; Sanggar Bayu Candra Kirana dari Senggreng, Sumberpucung pimpinan Hadi Siswanto dengan lakon “Klono Percuno”; serta Sanggar Condro Kirono dari Jambuwer, Kromengan pimpinan Sumarsono dengan kisah legenda “Kayu Apyun.”
Pementasan hari kedua dari Padepokan Topeng Asmoro Bangun Kedungmonggo, Pakisaji, pimpinan Tri Handoyo yang membuka pertunjukan dengan lakon “Ronggeng Roro Tangis.” Selanjutnya, Sanggar Wayang Topeng Madyo Laras dari Jatiguwi, Sumberpucung, pimpinan Susilo Hadi yang membawakan lakon “Lembu Gumarang.” Disusul Sanggar Ngesti Pandowo dari Lowokpermanu, Pakisaji, pimpinan Riono dengan lakon “Petruk Sugih”, serta Sanggar Mantraloka dari Desa Kemantren, Jabung, dengan komposer Deva Akbar melalui lakon “Menak.” Tak ketinggalan, Padepokan Mangun Dharma dari Tulus Besar, Tumpang, pimpinan Ki Soleh Adi Pramono menampilkan lakon “Asal-Usule Pring”
Amir Hamzah Dadi Ratu dalam Wayang Topeng Menak
Di masa kejayaan Kerajaan Yaman, Raja Abu Muntalib memerintah dengan bijaksana dan berpegang teguh pada nilai-nilai keadilan. Namun, kedamaian itu terguncang ketika ia mengirim utusan membawa upeti besar kepada sekutunya, Prabu Kopah — penguasa negeri jiran yang terkenal licik dan ambisius. Bukannya memperkuat persahabatan, Prabu Kopah justru tergoda oleh kekuasaan dan keserakahan. Ia menggunakan upeti itu untuk memperkaya dirinya, menindas rakyatnya sendiri, dan membangun benteng kekuatan yang menakutkan.
Kabar tentang kerakusan Prabu Kopah pun sampai ke telinga Raja Abu Muntalib. Ia merasa dikhianati, bukan karena harta yang diselewengkan, melainkan karena penderitaan rakyat yang timbul akibat keserakahan. Maka ia memanggil pahlawan muda yang gagah berani, Amir Hamzah, seorang kesatria cerdas, berjiwa lembut namun tegas dalam menegakkan kebenaran.
Amir Hamzah berangkat dengan restu sang raja, membawa pesan perdamaian — bukan pedang. Ia mencoba menasihati Prabu Kopah agar mengembalikan hak rakyat dan menebus dosanya dengan pertobatan. Namun, kesombongan telah menutup hati sang penguasa zalim. Ia menertawakan peringatan Amir Hamzah, bahkan menuduh sang pahlawan sebagai utusan lemah yang datang membawa ancaman kosong.
Pertemuan itu pun berubah menjadi medan ujian batin. Amir Hamzah menahan amarah, tetapi ketika Prabu Kopah menginjak simbol kerajaan Yaman — bendera kebesaran Abu Muntalib — ia tak lagi bisa diam. Peperangan pun pecah. Di tengah dentuman genderang dan sorak bala tentara, Amir Hamzah memimpin pasukannya dengan strategi dan keteguhan iman.
Pertempuran berlangsung sengit. Langit Yaman memerah oleh api peperangan. Namun, dalam kekacauan itu, Amir Hamzah tidak kehilangan welas asih. Ia berhadapan langsung dengan Prabu Kopah dan menundukkannya tanpa membunuh, karena baginya kemenangan sejati bukan terletak pada kematian musuh, tetapi pada tegaknya kebenaran.
Prabu Kopah akhirnya menyerah. Dengan mata penuh air penyesalan, ia mengakui kesalahannya di hadapan seluruh rakyat. Amir Hamzah pun diangkat menjadi pemimpin agung yang mempersatukan kembali negeri-negeri di bawah panji keadilan dan ketakwaan.
Sejak saat itu, rakyat menyebutnya Amir Hamzah Jumeneng Ratu, sang raja yang naik takhta bukan karena darah atau harta, melainkan karena kebijaksanaan, kesetiaan, dan kasihnya pada sesama.
Lakon Amir Hamzah Jumeneng Ratu tidak sekadar mengisahkan perang antara dua raja, melainkan menggambarkan pertarungan batin antara keserakahan dan keadilan, antara hawa nafsu dan kebijaksanaan.
Dalam konteks budaya Jawa, kisah ini mencerminkan ajaran memayu hayuning bawono — menjaga harmoni dunia dengan menundukkan ego diri.
Amir Hamzah digambarkan sebagai cerminan manusia paripurna (manunggaling kawula gusti) yang menaklukkan dunia bukan dengan kekerasan, tetapi dengan budi pekerti luhur.
Dalam tradisi Wayang Topeng Malang, lakon ini menjadi sarana laku spiritual — sebuah pangruwatan moral tentang bagaimana seorang pemimpin sejati harus menegakkan kebenaran dengan kebijaksanaan dan cinta kasih.
Mantraloka dan Kebangkitan Topeng Jabung
Sanggar Topeng Mantraloka berdiri pada tahun 2018 di Desa Kemantren, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, sebagai oase kebangkitan setelah meredupnya tradisi Wayang Topeng Jabung akibat wafatnya para maestro sepuh seperti Pak Parjo, Mbah Kari, dan Mbah Misdi. Jabung sendiri sejak lama dikenal sebagai salah satu poros penting gaya Brang Wetan dalam peta Wayang Topeng Malang, dengan ciri gerak halus, ritme dinamis, dan ekspresi penuh wibawa.
Mantraloka hadir sebagai gerakan kolektif yang menghidupkan kembali denyut kesenian topeng dengan semangat kebersamaan. Tidak ada satu pemimpin tunggal, sebab seluruh anggota berperan sebagai penggerak. Di antara mereka, Lyhong dikenal luas sebagai perajin topeng dengan ukiran khas Jabung yang ekspresif, kuat dalam karakter, dan menjadi rujukan banyak sanggar di Malang Raya. Sentuhan tangan Lyhong memperlihatkan keseimbangan antara detail estetika dan kekuatan simbolik setiap tokoh, menjadikan topeng-topeng buatannya memiliki “roh” yang hidup di atas panggung.
Dalam pertunjukan, kehadiran Deva Akbar sebagai komposer musik memberikan warna tersendiri. Ia menata iringan gamelan dengan sentuhan khas Brang Wetan yang cepat dan dinamis, dipadukan dengan nuansa modern yang membuat pertunjukan terasa segar dan komunikatif bagi penonton muda.
Mantraloka diperkuat oleh para penari muda berbakat yang menjadi wajah baru Topeng Jabung. Dalam wayang topeng jabung biasamya Mbak Binti selalu menjadi koreografer atau penata tari sehingga Endra Cou, selalu berperan sebagai Klono Sewandono, dikenal memiliki gerak tegas, gagah, dan penuh tenaga, mencerminkan watak seorang ksatria raja yang berwibawa, menghadirkan gaya lembut dan lirih yang merepresentasikan kecantikan serta kelembutan tokoh putri. Majid yang membawakan peran Amiluhur tampil anggun dan tenang, menonjolkan kebijaksanaan tokohnya. Sementara Eko sebagai Panji Asmarabangun menampilkan keseimbangan antara kelembutan dan ketegasan, sebuah simbol kesatria yang halus budi. Angga dengan perannya sebagai Udopati Kartolo tampil gesit dan penuh semangat, menonjolkan karakter lincah khas Brang Wetan. Mas Andik sebagai Gunungsari menunjukkan keanggunan dan kontrol tubuh yang kuat dalam setiap gerak. Sedangkan Mas Dani Dung, sebagai Patih Sabrang, dikenal dengan gaya gerak keras, tegas, dan penuh wibawa, menambah warna heroik dalam pertunjukan Mantraloka.
Sanggar ini aktif dalam berbagai kegiatan seni, baik di tingkat lokal maupun regional. Dalam ujian repertoar mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) tahun 2025 yang digelar di Dusun Busu, Desa Jabung, Mantraloka membawakan lakon Totok Kerot yang menonjolkan kekuatan dramatik dan humor rakyat. Dalam pertukaran mahasiswa ITN, mereka menampilkan Panji Laras dengan tata gerak yang penuh energi. Di Karang Genting, melalui acara Burak Bawana, serta dalam Festival Sekarbanjar di Dinoyo, Mantraloka membawakan lakon-lakon Menak dengan interpretasi yang segar. Di Taman Krida Budaya Malang, mereka tampil dengan Lentera Panji — adaptasi kisah lokal Panji dari Malang — serta Setya Kasih yang diilhami kisah Sekartaji Kembar. Setiap pementasan selalu menunjukkan semangat eksploratif tanpa meninggalkan akar tradisi.
Menariknya, secara historis Topeng Jabung memiliki pertalian darah dan garis tradisi dengan Topeng Polowijen. Hal ini berawal dari sosok Empu Topeng Malang, Ki Tjondro Suwono (Buyut Reni) dari Polowijen yang menikah dengan perempuan asal Jabung. Dari pernikahan inilah lahir tujuh keturunan, salah satunya adalah Lurah Kansen, yang kelak menjadi tokoh penting dan pemimpin kelompok Topeng Jabung. Dari garis keturunan inilah gaya khas Topeng Jabung terbentuk — gerakannya cenderung halus, lentur, dan berkarisma, mencerminkan perpaduan antara kehalusan gaya Polowijen dan kekuatan Brang Wetan. Pengaruh ini masih terasa hingga kini dalam setiap pementasan para penari muda Mantraloka.
Dalam setiap Gebyak Wayang Topeng, baik yang digelar di Kemantren, Busu, Jabung, Gunungjati, maupun saat tampil di berbagai acara lintas desa dan festival budaya, Mantraloka selalu hadir dengan semangat kolaborasi. Mereka sering bekerja sama dengan sanggar-sanggar lain di Malang Raya, menjadikan setiap panggung bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan juga ruang silaturahmi budaya.
Kini, Sanggar Topeng Mantraloka menjadi simbol kebangkitan Topeng Jabung — lahir dari semangat kolektif, kreativitas, dan cinta pada warisan leluhur. Mereka membuktikan bahwa Wayang Topeng bukan sekadar seni warisan masa lalu, melainkan sumber inspirasi untuk membangun persaudaraan, karakter, dan identitas budaya yang hidup di hati generasi muda.
Sumber: Isa Wahyudi (Ki Demang) Penggagas Kampung Budaya Polowijen





