Padepokan Asmorobangun “Ngronggeng” Wayang Topeng di Depan Wamenbud RI Giring Ganesha

oleh -463 Dilihat
oleh

Malang, paradigmanasional.idGebyak Wayang Topeng Malang kembali menggema di kawasan wisata Boon Pring Sanankerto, Turen, dalam rangkaian Festival Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Malang yang digelar pada 8–9 November 2025.

Pementasan Gebyak Wayang Topeng Malang tampil sebagai sorotan utama, bukan sekadar tontonan, melainkan simbol nyata pelestarian Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang telah lama menjadi jati diri masyarakat Malang.

Pementasan hari kedua menjadi istimewa dengan kehadiran Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha, yang didampingi oleh Bupati Malang H. Sanusi serta rombongan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2025. Mereka menikmati ragam pertunjukan seni tradisi, termasuk penampilan memukau dari Padepokan Topeng Asmoro Bangun Kedungmonggo, Pakisaji, pimpinan Tri Handoyo yang membuka pertunjukan dengan lakon “Ronggeng Roro Tangis.”

Selanjutnya, pertunjukan berlanjut dengan Sanggar Wayang Topeng Madyo Laras dari Jatiguwi, Sumberpucung, pimpinan Susilo Hadi yang membawakan lakon “Lembu Gumarang.” Disusul Sanggar Ngesti Pandowo dari Lowokpermanu, Pakisaji, pimpinan Riono dengan lakon “Petruk Sugih”, serta Sanggar Mantraloka dari Desa Kemantren, Jabung bersama komposer Deva Akbar melalui lakon “Menak.” Tak ketinggalan, Padepokan Mangun Dharma dari Tulus Besar, Tumpang, pimpinan Ki Soleh Adi Pramono menampilkan lakon “Asal-Usule Pring” yang sarat makna ekologis dan spiritual.

Hari pertama Gebyak Wayang Topeng menampilkan lima kelompok dengan kekayaan kisah Panji yang menjadi ciri khas Malang Raya. Di antaranya Sanggar Madyo Utomo dari Pijiombo, Wonosari pimpinan Riyoko dengan lakon “Sekartaji Boyong”; Wayang Topeng Dharmo Langgeng dari Gunungjati, Jabung dengan lakon “Panji Wisuda”; Wayang Topeng Sailendra dari Kranggan, Ngajum pimpinan Dasiyo membawakan “Sinta Murca”; Sanggar Bayu Candra Kirana dari Senggreng, Sumberpucung pimpinan Hadi Siswanto dengan lakon “Klono Percuno”; serta Sanggar Condro Kirono dari Jambuwer, Kromengan pimpinan Sumarsono dengan kisah legenda “Kayu Apyun.”

Lakon “Ronggeng Roro Jiwo Roro Tangis”

Lakon ini merupakan garapan khas Padepokan Seni Topeng Asmoro Bangun di bawah pimpinan Tri Handoyo, yang menafsirkan kisah Panji secara simbolik dan mendalam. Cerita ini tidak hanya menggambarkan perebutan pusaka dan kekuasaan, tetapi juga menjadi alegori perjalanan batin manusia dalam mencari jati diri dan keseimbangan antara kekuatan lahir dan batin.

Kisah bermula ketika Prabu Klono Garudo Lelono mendapat mimpi tentang pusaka sakti dari Kerajaan Jenggala dan Kediri — lambang kemakmuran dan kedaulatan yang diyakini dapat menjadikannya raja terkuat di dunia. Obsesi terhadap mimpi itu membuatnya mengutus Patih Sabrang untuk mencuri pusaka dari kediaman Gunungsari, tanpa menyadari bahwa tindakan tersebut akan menimbulkan kekacauan besar. Di sisi lain, Panji Asmoro Bangun atau Raden Gunungsari yang menjadi penjaga pusaka, justru dituduh sebagai penyebab hilangnya benda suci tersebut, hingga terjadi pertarungan antara kebenaran dan kesalahpahaman.

Dalam kekalutan itu muncul tokoh bijak Jarodreh, yang menuntun Panji keluar dari labirin ambisi dan amarah. Ia memberi wejangan bahwa pusaka sejati tidak berada di istana, melainkan dalam diri manusia sendiri. Untuk menemukannya kembali, Panji harus melepaskan segala kebesaran dan menjadi “Ronggeng” — simbol pengabdian, kerendahan hati, dan penyatuan jiwa dengan semesta. Maka lahirlah sosok Ronggeng Roro Jiwo Roro Tangis, wujud Panji yang bertransformasi dari kesatria menjadi penari, dari penguasa menjadi penyembuh, dari kekuatan maskulin menuju keseimbangan energi feminin.

Dalam pementasan ini, gerak tari, iringan gamelan, dan ekspresi topeng berpadu membangun suasana spiritual yang kuat. Topeng Roro Jiwo dan Roro Tangis menjadi metafora jiwa manusia yang menangis karena kehilangan arah, namun akhirnya menari untuk menemukan kembali makna kehidupan. Kesedihan yang ditampilkan bukan sekadar duka, melainkan refleksi kesadaran — bahwa tangis adalah awal dari penyucian diri.

Makna mendalam dari lakon ini adalah perjalanan manusia untuk menaklukkan ego dan menemukan kembali harmoni batin, sebagaimana Panji yang harus “menari” untuk kembali pada kesejatiannya. Dalam konteks Wayang Topeng Malang, lakon ini menjadi simbol penyatuan antara raga dan rasa, dunia dan batin, laki-laki dan perempuan — menggambarkan falsafah Jawa tentang kesempurnaan hidup: manunggalnya jiwa dan jagad.

Melalui interpretasi Tri Handoyo, “Ronggeng Roro Jiwo Roro Tangis” tampil bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebuah renungan estetis dan spiritual. Gerak lembut dan gagah para penari menjadi bahasa simbolik tentang keseimbangan kehidupan. Di tangan Padepokan Seni Topeng Asmoro Bangun, lakon ini berubah menjadi doa yang menari — pesan bahwa dalam setiap tangis ada kekuatan, dan dalam setiap gerak ada jalan menuju pencerahan.

Jejak Padepokan Seni Topeng Asmoro Bangun dan Warisan Maestro Topeng Malang

Jejak pelestarian Wayang Topeng Malang Asmorobangun di Dusun Kedungmonggo, Pakisaji, merupakan kisah panjang tentang dedikasi dan ketulusan para seniman yang menjaga api tradisi agar tetap menyala di tengah perubahan zaman. Sejak berdiri pada awal tahun 1900-an, kelompok ini menjadi poros penting dalam sejarah kesenian rakyat Malang Selatan, tempat di mana tradisi tidak hanya dilestarikan tetapi juga dihidupkan kembali dengan semangat baru setiap generasinya.

Generasi pertama, Serun, adalah pelopor yang menanamkan dasar pertunjukan topeng di Kedungmonggo dengan menjadikan seni sebagai media nasihat moral dan ungkapan spiritual masyarakat desa. Tongkat estafet diteruskan kepada Kiman, generasi kedua, yang memperluas kiprah pertunjukan hingga menjangkau wilayah-wilayah tetangga.

Namun masa keemasan Wayang Topeng Kedungmonggo mencapai puncaknya pada masa Mbah Karimoen, tokoh generasi ketiga yang dikenal sebagai Maestro Topeng Malang.
Mbah Karimoen terkenal dengan perannya sebagai Klono Sewandono, dengan gaya tari yang gagah, pemberani, kuat, dan berwibawa. Gerakannya yang tegas namun anggun menjadikan setiap penampilannya penuh daya pesona dan energi kepemimpinan yang khas.

Kharisma Mbah Karimoen tidak hanya menghidupkan karakter Klono di atas panggung, tetapi juga membentuk dasar gaya tari Topeng Brang Kidul — yang dikenal dengan karakter gerak yang kuat, berstruktur, dan penuh semangat keprajuritan. Ia bukan hanya seorang penari, melainkan guru besar tradisi yang mengajarkan nilai-nilai kesetiaan, kesabaran, dan spiritualitas dalam setiap gerak topeng. Atas dedikasi dan kepiawaiannya, Mbah Karimoen memperoleh gelar Maestro Topeng dari Kementerian Kebudayaan pada tahun 2008.

Warisan beliau kemudian diteruskan oleh Taslan Harsono, generasi keempat, yang memperkuat jaringan pelestarian seni dengan menumbuhkan sanggar-sanggar latihan dan menanamkan semangat regenerasi di kalangan muda. Dari upaya inilah muncul dua tokoh penting penerus garis keturunan seni Kedungmonggo, yakni Tri Handoyo dan Ki Suroso, yang hingga kini menjadi penjaga sekaligus pembaharu tradisi Topeng Malang.

Tri Handoyo, cucu Mbah Karimoen sekaligus adik dari Ki Suroso, merupakan sosok seniman serba bisa. Selain dikenal sebagai guru tari dan penggerak utama di Padepokan Seni Topeng Asmorobangun, ia juga pernah menjadi Dosen Seni Tari di PSTM Universitas Negeri Malang serta menerima penghargaan Maestro Topeng Muda dari ISI Yogyakarta. Tri Handoyo tak hanya mengajarkan tari, tetapi juga dikenal sebagai pengendang dan komposer gamelan, serta perajin topeng yang menciptakan karya baik untuk pertunjukan maupun untuk souvenir budaya.

Di balik aktivitas seninya, ia didampingi oleh istrinya, Saini, seorang sinden wayang topeng yang suaranya khas dan menjadi bagian penting dalam setiap pementasan. Pasangan ini menjadi contoh nyata bagaimana keluarga seniman dapat menjadi pusat hidupnya tradisi, di mana rumah mereka berfungsi layaknya padepokan budaya yang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.

Sementara itu, Ki Suroso, kakak dari Tri Handoyo, adalah tokoh penting yang menempuh jalur pelestarian melalui kepemimpinan dalam pelestarian kesenian tradisi dan topeng Malang. Ia menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang sekaligus Ketua Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur, posisi yang menegaskan perannya sebagai figur strategis dalam ekosistem kebudayaan regional.

Di samping kepemimpinannya, Ki Suroso dikenal sebagai pencipta tari-tari kreasi tradisional dan komposer gamelan yang handal. Dalam dunia pertunjukan, ia juga kerap tampil sebagai penari topeng dengan peran khasnya sebagai Potrojoyo, serta aktif dalam seni ludruk Malang. Ki Suroso adalah bapake arek seniman, ia sosok yang tidak pernah absen dalam setiap even pertunjukan wayang topeng Malang dimanapun tempatnya Ki Suroso selalu hadir membersamai para seniman topeng Malang.

Peran penting dalam kehidupan kesenian Ki Suroso juga didukung oleh istrinya, Bu Ririn, seorang guru sinden wayang topeng, penata busana pertunjukan, sekaligus peracik sesajen saat Wayang Topeng hendak gebyak atau tampil. Ia memegang peran penting dalam menjaga sisi sakral dan estetik dari setiap pementasan, memastikan bahwa prosesi sebelum pertunjukan berlangsung sesuai pakem tradisi.

Kehadiran Bu Ririn menjadikan keluarga ini bukan hanya penggerak kesenian, tetapi juga penjaga nilai spiritual dan keseimbangan dalam ritual Topeng Malang. Beliau adalah sinden wayang topeng yang paling khas suaranya maupun paling menonjol gaya tembang malangnya. Ririn adalah sosok yang paling ketat dalam menjaga warisan tradisi dan paling serius dalam persiapan pementasan termasuk mempersiapkan cok bakal dan sesajen untuk suguh

Adapun Karimoen Center, yang kini menjadi wadah pengembangan karya-karya baru, merupakan lembaga yang digagas oleh Dimas Bagas Atmanadi, buyut Mbah Karimoen sekaligus putra dari Ki Suroso. Melalui pusat ini, semangat inovasi dalam tradisi diwujudkan dalam berbagai karya tari, musik, dan pementasan kolaboratif.

Di bawah bimbingan keluarga besar Asmorobangun, lahir berbagai garapan tari seperti Panji Laras, Panji Mangu, dan Smaratahta yang pernah ditampilkan di Taman Krida Budaya Jawa Timur. Karya-karya tersebut merupakan hasil eksplorasi kreatif yang menggabungkan unsur klasik dengan sentuhan kontemporer.

Dalam beberapa pementasan besar seperti Gebyak Wayang Topeng Malang untuk GME-Z, komposisi gamelan digarap oleh Dimas Bagas Atmanadi, sedangkan koreografi sebagian besar ditata oleh D. Bagus Atmananto — keduanya generasi penerus yang memperlihatkan semangat pembaruan tanpa meninggalkan akar tradisi.

Kiprah Padepokan Seni Topeng Asmorobangun dan Karimoen Center memberi pengaruh besar terhadap kebangkitan topeng di seluruh wilayah Malang. Dari gaya Kedungmonggo, muncul inspirasi bagi topeng-topeng di Jambuwer, Polowijen, dan Jabung yang masing-masing mengembangkan karakteristiknya sendiri. Namun akar spiritual, estetika gerak, dan filosofi Panji dari Kedungmonggo tetap menjadi sumber utama, menegaskan posisi Asmorobangun sebagai “induk” dari banyak varian gaya Topeng Malang.

Dari Serun ke Karimoen hingga Tri Handoyo dan Ki Suroso, perjalanan Wayang Topeng Asmorobangun bukan hanya kisah pewarisan seni, tetapi juga perjalanan batin tentang kesetiaan terhadap warisan leluhur. Mereka telah membuktikan bahwa Topeng Malang bukan sekadar tarian, melainkan sarana untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, membangun jati diri, dan menjaga keseimbangan antara tradisi dan kehidupan modern.

Sumber berita – Isa Wahyudi (Ki Demang)
Penggagas Kampung Budaya Polowijen

No More Posts Available.

No more pages to load.