Kurator Sahlan Gugat PT Angkasa Pura dan KKP Kelas Insecta Surabaya

oleh -166 Dilihat

SURABAYA (paradigmanaaional.com) -Ditengah – tengah pemerintah menganjurkan rakyatnya untuk vaksin ternyata tidak membuat perjalanan kita aman dan lancar,seperti yang dialami Sahlan, seorang penumpang pesawat terbang yang menggugat PT (Pesero) Angkasa Pura I dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Surabaya di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Warga Jalan Gayungsari Barat X/27 Surabaya yang berprofesi sebagai kurator,menuding PT Angkasa Pura I selaku operator Bandara Juanda dan KKP Surabaya, telah melakukan perbuatan melawan hukum (PMH). Karena menerapkan peraturan wajib tes PCR untuk perjalanan udara bagi setiap penumpang pesawat.

Kuasa hukum Sahlan, M Yusuf Effendy mengatakan, kliennya mengalami kerugian materiil maupun immateriil akibat kejadian itu.

Dalam gugatannya, pertama Yusuf Effendy meminta agar mereka menghapus aturan kewajiban tes PCR. Kedua, agar mereka menyampaikan permohonan maaf secara terbuka pada 99 media massa.

“Dan Ketiga mereka dituntut mengganti kerugian materiil seharga kerugian tiket dan kerugian Immateriil sebesar Rp 99.000,” katanya di Rumah Sahlan, Sabtu (6/11/2021).

Dijelaskan Sahlan, perkara ini berawal pada Rabu 3 November 2021. Kala itu, dia sudah mengantongi Tiket Pesawat Batik Air dengan nomor 9902179206578 untuk penerbangan tujuan Surabaya – Jakarta, karena ada jadwal sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Namun sewaktu hendak melakukan check in di bandara, petugas bandara Juanda mengatakan dia tidak dapat diberangkatkan ke Jakarta sebelum melakukan kewajiban tes PCR.

“Padahal saya datang ke bandara enam jam sebelum keberangkatan. Saya memang baru satu kali di vaksin, ternyata untuk vaksin satu itu harus tes PCR,” jelas Sahlan.

Menyadari baru satu kali di vaksin, Sahlan pun menantang kalau dirinya siap di vaksin saat itu juga, asal Bandara ada vaksin dua anti Gen yang cepat. Ternyata kata Sahlan, pihak Bandara tidak mempersiapkan.

“Tolong Bandara siapkan vaksinnya, kalau memang aturan itu dibuat. Mereka hanya menyiapkan Tes PCR. Tapi PCR nya tidak bisa enam jam sebelum pesawat berangkat. Ini kan menyusahkan masyarakat,” kata Sahlan.

Sahlan berharap, kalau memang Pemerintah tidak siap dengan konsekwensinya bahkan tetap ngotot menjalankan aturan, maka logikanya peraturan tersebut janganlah diterapkan dulu.

“Kalau memang Bandara itu tidak siap dengan vaksin kedua dan tidak siap dengan PCR (cepat), tolong aturan semacam itu jangan diterapkan dulu. Jangan paksa masyarakat dengan aturan yang tidak bisa dijalankan oleh mereka sendiri,” harapnya.

Diakui Sahlan, dirinya banyak mendengar bahwa PCR itu menyengsarakan masyarakat. Mulai PCR dari harga Rp 2,5 juta sampai akhirnya turun menjadi Rp 275 ribu dan selesainya 24 jam itu kan sangat menyusahkan di kondisi ekonomi yang seperti ini. Tidak pantas rasanya kalau pemerintah berbisnis dengan rakyatnya, ditengah rakyatnya dalam kondisi kesusahan akibat pandemi saat ini.

“Aturan-aturan yang menyengsarahkan masyarat, aturan-aturan yang sebetulnya tidak ada kaitannya dengan penerbangan jangan diterapkan. Antara vaksin dengan penerbangan kan tidak ada korelasinya. Aturan-aturan seperti itu tidak usah diterapkan, terlalu menyusahkan. PCR itu tidak ada relevansinya dengan penerbangan, Dan itu (PCR) cenderung hanya formalitas saja,” tandasnya.

Dikonfirmasi awak media terkait gugatan tersebut, PT Angkasa Pura I Cabang Bandara Juanda belum memberikan konfirmasinya. Sementara KKP Kelas I Surabaya saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp (WA) menjawab,”saya tidak tahu”.

“Jadi tidak bisa memberikan konfirmasi lebih jauh,” kata ketua KKP Kelas I Surabaya, Dr Rofi.

(pri/deksa)

No More Posts Available.

No more pages to load.