Amaq Sinta Apresiasi Polri Berikan Keadilan Lewat SP3 Kasus Begal.

oleh -2338 Dilihat

NTB, paradigmanasional.id – Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) perkara Murtede alias Amaq Sinta seorang korban Begal yang telah ditetapkan sebagai Tersangka.

Menanggapi hal tersebut, Biro Konsultasi dan Bantuan Hukum (BKNH) Fakultas Hukum Universitas Mataram sekaligus Pengacara Amaq Sinta, Joko Jumadi menyampaikan apresiasi kepada Polri yang telah memberikan asas Keadilan kepada Amaq Sinta dalam perkara tersebut.

“Kami dari BKBH Fakultas Hukum Universitas Mataram, selaku Tim Kuasa Hukum Amaq Sinta mengucapkan terima kasih dan apresiasi sebesar-besarnya kepada Kapolri dan Kapolda NTB, yang telah melaksanakan fungsi Pengawasan dan Pengendalian Perkara Pidana,” kata Joko dalam tayangan videonya, pada Minggu (17/4/2022).

Joko berpandangan, bahwa terkait penanganan proses Hukum yang dialami oleh Amaq Sinta sejak awal bergulir telah berjalan sebagaimana asas Keadilan dan Kemanfaatan Hukum. Pasalnya, kata Joko, hal itu tercermin dengan adanya penarikan perkara itu dari Polres Lombok Tengah ke Polda NTB.

Kemudian setelah diambil alih, kata Joko, Polda NTB langsung melakukan gelar perkara khusus bersama dengan para Ahli Hukum dan memutuskan kasus yang dialami Amaq Sinta Dihentikan atau SP3.

“Khususnya di kasus Amaq Sinta yang telah diambil alih kasus Amaq Sinta dari Lombok Tengah dan mengambil keputusan untuk menghentikan kasus itu melalui SP3. Pembelajaran dari kasus ini adalah peran serta masyarakat sangat dibutuhkan di dalam penanggulangan Kejahatan,” ujar Joko.

Sebelumnya, Kapolda NTB Irjen Djoko Purwanto menjelaskan dari hasil gelar perkara khusus itu disimpulkan, bahwa peristiwa tersebut merupakan pembelaan terpaksa sebagaimana termaksud dalam Pasal 49 Ayat (1) KUHP.

“Sehingga tidak ditemukan adanya unsur perbuatan melawan Hukum, baik secara Formil dan Materiil,” tutur Irjen Pol Djoko Purwanto kepada wartawan, pada hari Sabtu (16/04/2022).

Menurut Irjen Pol Djoko Purwanto, keputusan dari gelar perkara tersebut berdasarkan peraturan Kapolri Nomor 6 Tahun 2019, Pasal 30 tentang Penyidikan Tindak Pidana bahwa Penghentian Penyidikan dapat dilakukan demi Kepastian Hukum, Kemanfaatan dan Keadilan.

Terkait penanganan perkara Amaq Sinta, maka Polda NTB dalam hal ini untuk memproses gelar perkara khusus yang mengedepankan asas Proporsional, Legalitas, Akuntabilitas dan Nesesitas. Dengan tujuan, terwujudnya rasa Keadilan dan Kemanfaatan Hukum bagi masyarakat. (BERTUS/TIM).

No More Posts Available.

No more pages to load.